Bunga KUR 6 Persen, Ancaman bagi Lembaga Keuangan Mikro

Pemerintah berencana menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) per 1 Januari 2020 dari 7 persen menjadi 6 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pemerintah berencana menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) per 1 Januari 2020 dari 7 persen menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut membawa angin segar bagi UMKM dan usaha produktif ke depannya, namun bunga KUR yang rendah tersebut diharapkan tidak akan menjadi ancaman bagi lembaga keuangan mikro.

Pemerhati ekonomi dan perbankan dari FE Unud, Prof. Wayan Ramantha di Renon, Selasa (19/11) kemarin mengatakan, bunga KUR menjadi 6 persen sangat membantu dan menarik bagi pelaku UMKM, apalagi di tengah ekonomi yang cenderung melesu. Namun di sisi lain, Guru Besar FE Unud ini melihat bunga KUR yang murah merupakan ancaman bagi lembaga keuangan mikro seperti BPR, koperasi dan LPD.

“Kenapa jadi ancaman karena lembaga keuangan mikro ini  tidak bisa menyaingi suku bunga KUR itu. Bunga kredit mereka tentu akan lebih besar dari KUR,” katanya.

Untuk itu, ia berharap lembaga keuangan mikro ini diberikan porsi yang sama seperti bank umum untuk menjadi bank penyalur KUR. Bank pun bisa memilih bersinergi dalam penyaluran KUR atau berikan juga ke lembaga keuangan mikro. Disinggung mekanisme sebagai penyalur KUR harus memiliki kinerja yang baik, rasio kredit bermasalah kecil dan modal harus kuat mengingat dana KUR yang disalurkan dari dana sendiri bukan bantuan pemerintah, Ramantha mengungkapkan tentu BPR, koperasi maupun LPD yang ingin sebagai penyalur KUR harus diseleksi.

Seperti diketahui kebijakan bunga KUR 6 persen setahun sesuai arahan Presiden Jokowi yang ingin pengembangan UMKM dan upaya perbaikan neraca perdagangan dipercepat. Selain penurunan suku bunga, ada juga kenaikan plafon minimal penyaluran KUR pada tahun depan menjadi Rp190 triliun, naik 35,7 persen dari plafon tahun ini yang sebesar Rp 140 triliun. Selain itu, plafon maksimal KUR mikro juga dilipatgandakan dari saat ini Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Khusus untuk akumulasi plafon KUR mikro untuk sektor perdagangan, pemerintah juga memutuskan dilakukan kenaikan, dari saat ini Rp100 juta menjadi Rp200 juta. *dik

BAGIKAN