Bunga BI 7DRR Diprediksi Tetap Angka Ideal di Kisaran 4,75 Persen 

Bank Indonesia diprediksi akan masih menahan suku bunga acuan atau BI 7 day repo rate (7 DRR) pada Januari 2019 ini di kisaran 5 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bank Indonesia diprediksi akan masih menahan suku bunga acuan atau BI 7 day repo rate (7 DRR) pada Januari 2019 ini di kisaran 5 persen. Kendati demikian, pemerhati ekonomi dari Undiknas University, Prof. Dr. IB Raka Suardana melihat potensi BI 7DRR masih bisa menyentuh angka ideal di kisaran 4,75 persen.

”Bila melihat kondisi ekonomi dan kelesuan awal tahun, ada kemungkinan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia  (RDG BI) akan mempertahankan bunga acuannya. Namun, ada peluang pada triwulan I atau hingga Maret di kisaran 4,75 persen,” katanya.

Mantan Dekan FEB Undiknas University ini mengungkapkan, ada beberapa faktor RDG BI mempertahankan bunga acuan pada Januari 2019 ini, yaitu pertumbuhan kredit belum bagus, APBN belum turun dan berjalan seperti harapan pemerintah sehingga dana-dana proyek belum berjalan maksimal.

BI pun diakui Prof. Raka Suardana masih kesulitan untuk membuat bank segera menurunkan suku bunga kredit, mengingat bank sentral tidak memiliki wewenang memaksa bank menurunkan bunga pinjaman pascapenurunan bunga acuan. Harapan kini kepada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini bunganya mengalami penurunan dari 7 persen menjadi 6 persen.

”Kita harapkan bunga KUR yang turun bisa menggerakkan pelaku usaha dan UMKM, sehingga perekonomian daerah ini bisa tumbuh,” katanya.

Hal sama diungkapkan Dekan FEB Universitas Udayana Agoes Ganesha Rahyuda, S.E., M.T., Ph.D. Ia mengatakan, dari situasi yang beredar, kemungkinannya BI akan menahan acuan di level 5 persen.

“Jika itu benar maka bagi saya itu merupakan langkah yang sesuai di tengah situasi eksternal dan internal terkait keuangan saat ini,” katanya.

Agoes Ganesha Rahyuda pun menilai pengaruh bunga acuan BI 7 DRR terhadap ekonomi Bali pada 2020 ini relatif sama. Pertumbuhan kredit dan daya beli akan mengalami pertumbuhan walaupun tidak terlalu besar, begitu pula konsumsi. *dik

 

Prof. Dr. IB Raka Suardana
BAGIKAN