Buka Pariwisata Bali, Ini Syaratnya

Guna mempercepat bangkitnya pariwisata Bali, peran serta semua pihak sangat dibutuhkan, terutama dalam rangka mewujudkan Masyarakat Produktif Aman Covid-19 (MPAC).

CUCI TANGAN - Seorang pengunjung mencuci tangan sebelum berbelanja di Pasar Badung, Denpasar. Disiplin prokes menjadi kunci MPAC.

Denpasar (bisnisbali.com) – Guna mempercepat bangkitnya pariwisata Bali, peran serta semua pihak sangat dibutuhkan, terutama dalam rangka mewujudkan Masyarakat Produktif Aman Covid-19 (MPAC). Jika MPAC segera terwujud maka sektor pariwisata Bali berpeluang kembali dibuka secara penuh pada Juni atau Juli 2021 mendatang.

“Pembukaan wisata Bali secara penuh baru bisa dilakukan apabila angka Covid-19 terkendali dan protokol kesehatan dipatuhi secara ketat oleh pelaku seluruh masyarakat. Itu ditegaskan Presiden Jokowi,” kata Wakil Ketua DPP Indonesia Hotel General Manager Assosiation (IHGMA), I Made Ramia Adnyana, Rabu (17/3).

Sebagai pelaku pariwisata, Ramia Adnyana mengaku sangat menaruh harapan yang sangat besar atas kedatangan Presiden Jokowi ke Bali. Sebab selama ini terlalu banyak informasi yang simpang siur yang kesannya kurang terkoordinasi dengan baik. Dengan hadirnya orang nomor satu RI di Bali, pihaknya berharap vaksin bisa lebih digencarkan untuk mencapai 70 persen dari seluruh masyarakat Bali. “Bila 70 persen seluruh masyarakat sudah divaksin, harapannya Bali bisa segera dibuka untuk wisatawan mancanegara,” terangnya.

Ia pun berharap border segera dibuka antara Juni dan Juli 2021, bukan Maret atau April 2022, dengan catatan setelah vaksin tetap protokol kesehatan (prokes) diperketat. “Kondisi kami yang sudah setahun lebih berdarah-darah ini jangan sampai collapse beneran karena terlambatnya border dibuka untuk wisatawan mancanegara,” imbuhnya.

Pihaknya yakin border bisa dibuka karena sudah banyak negara yang juga akan buka border dengan kerja sama travel bubble di Juli 2021. Tiongkok bahkan sudah mengumumkan bahwa mereka sudah bebas Covid-19. “Jadi, Bali sudah bisa melakukan travel bubble atau Free Covid Corridor (FCC) dengan beberapa negara seperti Ukraina, Rusia, Amerika Serikat dan yang lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, pemerhati ekonomi Kusumayani, M.M. melihat peluang Bali membuka kunjungan bagi wisatawan memang terbuka, asalkan semua persyaratan terpenuhi. Salah satunya MPAC.

Pihaknya juga meyakini pemerintah tentu tidak gegabah segera membuka bila lonjakan kasus tetap ada. Karenanya, vaksinasi sangat diperlukan dan merata diterima seluruh Bali. Vaksinasi pun bukan jaminan bebas sehingga tetap partisipasi seluruh masyarakat dan pelaku pariwisata Bali untuk mematuhi prokes. “Kita harapkan sebelum membuka terlebih dahulu dilakukan simulasi sehingga semuanya akan tetap aman dari virus dan perekonomian bisa bangkit kembali,” sarannya. *dik

BAGIKAN