Buka Keran Wisata Mancanegara, FCC Ditargetkan Mulai Maret

Bali saat ini sudah memasuki tahapan komplikasi antara aspek kesehatan dan aspek ekonomi.

WISATAWAN - Beberapa wisdom menikmati suasana Pantai Kuta. Untuk menggarap kembali pasar mancanegara, FCC di Bali ditargetkan dimulai Maret 2021. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Bali saat ini sudah memasuki tahapan komplikasi antara aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Dalam menyikapi kondisi tersebut, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali melakukan pertemuan dengan menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno untuk bersama-sama mencari terobosan yang lebih berani, jelas dan terukur untuk Bali ke depannya.

Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Hipmi Bali, Pande Agus Permana Widura mengatakan ada beberapa hal yang dibicarakan. Pertama, agar mempercepat program Free Covid-19 Corridor (FCC) dan memprioritaskan vaksin bagi masyarakat Bali.

Pande Widura menyebutkan, khusus FCC, Menparekraf Sandiaga Uno menyampaikan, open boarder untuk wisatawan mancanegara akan dicanangkan paling cepat pada Maret atau paling lambat April 2021 melalui program FCC. Maka dari itu, diharapkan semua komponen menyiapkan mekanismenya dengan baik terutama prokes CHSE agar tetap dapat dijalankan dengan ketat dan konsisten.

Pihaknya juga berharap Pemerintah Provinsi Bali agar menyiapkan RS darurat Covid-19 khususnya untuk wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. “Contohnya, pemerintah pusat menggunakan gedung wisma atlet. Harapan kita agar negara lain lebih percaya membuka bordernya dengan Indonesia,” katanya.

Kedua, memohon kepada pemerintah agar tidak ada lagi PSBB atau PPKM di Bali karena tidak efektif bahkan memperparah perekonomian di Bali. Pande Widura mengakui, Menfarekraf setuju yang perlu difokuskan bukannya pembatasan jam operasional tetapi pembatasan berkumpul dalam jumlah besar. Dengan pembatasan seperti ini yang paling terdampak adalah pengusaha kecil dan mikro.

Menteri Sandiaga Uno juga merespons positif dan sangat berempati terhadap kondisi Bali saat ini. “Beliau mengungkapkan, kita dalam frekuensi yang sama dan sangat setuju bahwa Bali harus memiliki terobosan yang terukur untuk mengantisipasi tekanan pandemi Covid-19,” paparnya.

Begitu pula terkait harapan Hipmi Bali terkait program vaksinasi untuk Bali akan diupayakan mencapai 70 persen dan rencananya akan mulai dilaksanakan pada Maret 2021. Bali harus mendapatkan prioritas untuk program vaksin baik melalui platform pemerintah ataupun platform gotong royong untuk menciptakan herd imunity yang kuat pada komunitas di Bali.

Lebih lanjut Pande Widura menerangkan, genap hampir setahun Bali telah dihantam tekanan dan gelombang pandemi Covid-19 yang memporakporandakan seluruh sektor yang ada, terutama sektor andalan Bali yaitu pariwisata. Pihaknya pun menyatakan sepaham dan sependapat di tahap awal ancaman keselamatan dan kesehatan menjadi prioritas bersama sehingga untuk memasuki tatanan kehidupan era baru harus mematuhi dan menjalankan prokes CHSE dengan disiplin dan konsisten.

Pada 2020 bahkan telah menjadi paling terpuruk di nasional dengan PDRB minus 9,31 persen dan membuat Bali telah memasuki tahapan komplikasi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi minus 9,31 persen sedangkan nasional minus 2,07 persen. *dik

BAGIKAN