Budi Daya Porang Makin Dilirik Petani Tabanan

Budi daya tanaman porang makin dilirik oleh petani di Kabupaten Tabanan.

PORANG - Salah satu petani Tabanan yang mengembangkan tanaman porang.

Tabanan (bisnisbali.com) –Budi daya tanaman porang makin dilirik oleh petani di Kabupaten Tabanan. Selain mudah dibudidayakan, harga jual yang stabil seiring belum terpenuhinya kuota ekspor menjadi daya tarik bagi petani untuk mengembangkannya memanfaatkan lahan-lahan yang tidak produktif.

Ketua DPC Perkumpulan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Tabanan Putu Yasa mengungkapkan, sejumlah petani sudah mengembangkan budi daya tanaman porang. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil panen porang yang diserap pasar ekspor cukup besar. Bahkan, selama ini produksi porang di Bali belum bisa memenuhi permintaan kuota ekspor. “Di pasar ekspor, porang untuk kebutuhan bahan baku konsumsi, bahan baku pembuat lem hingga bahan baku kosmetik,” tuturnya, Selasa (12/1) kemarin.

Tanaman porang dikembangkan di Kabupaten Tabanan sejak 2006, namun baru menggeliat pada 2019. Itu pula yang membuat harga bibit porang di tingkat lokal menjadi mahal. Porang jenis bibit katak isian 150-200 harganya bisa mencapai Rp 350.000 per kilogram dengan luas tanam mencapai satu are (jarak tanam 30-40 cm).

Dijelaskannya, porang siap panen umumnya setelah dipelihara tiga tahun untuk kualitas bibit dari katak. Jika penanaman bibit dimulai dari umbi berat 1 kilogram membutuhkan waktu satu musim atau satu-dua tahun. Selain bibit, usia tanam ini juga bergantung pemeliharaan dan pemupukan. “Untuk mendapat hasil yang baik, kami sarankan para petani porang menggunakan pupuk organik, sehingga biaya produksi murah. Pabrikan sebagai penyerap hasil panen juga tidak menginginkan produksi porang dengan kimia,” ujarnya.

Komoditas jual tanaman porang adalah umbi yang dihasilkan pada saat panen. Umbi porang mengandung glucomannan yang tinggi berbentuk tepung. Selama ini harga umbi porang berkualitas bagus dibanderol stabil di kisaran Rp 13.000 per kilogram. ‘’Sekitar 50 orang petani sudah masuk sebagai anggota perkumpulan petani porang di Tabanan. Jumlah ini tersebar di semua wilayah, mengingat porang cocok dikembangkan di Tabanan,’’ tambah Putu Yasa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Ir. I Nyoman Budana, M.M., juga menyatakan  tanaman porang dikembangkan sejumlah petani di Tabanan. Itu karena kondisi lahan dan alamnya sesuai untuk kebutuhan porang dan berpotensi cukup besar terserap ke pasar ekspor. Akan tetapi hingga kini belum ada program dari dinas, salah satunya bantuan bibit untuk mendukung penanaman porang. “Jika petani ini ingin mengembangkan porang, kami akan dukung. Tapi dukungan tersebut belum bisa dibarengi dengan bantuan fasilitas budi daya,” tegasnya.

Menurutnya, budi daya tanaman porang hampir sama seperti budi daya jahe. Namun, porang lebih mudah karena bisa hidup di berbagai lahan termasuk jika dikembangkan secara tumpang sari. Sampai kini pihaknya belum memiliki data terkait luas pengembangan tanaman porang di Kabupaten Tabanan. *man

BAGIKAN