BPR Mampu Bertahan di Tengah Pandemi

Dunia perbankan tidak luput dari dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, terutama dalam pembiayaan sektor properti yang banyak terdiam saat ini.

Sekjen Perbarindo Bali Made Suarja (kiri) dan praktisi BPR, Nengah Sutha Semadi (kanan).

Denpasar (bisnisbali.com) – Dunia perbankan tidak luput dari dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, terutama dalam pembiayaan sektor properti yang banyak terdiam saat ini. Pasalnya, 75 persen pembiayaan sektor properti tersebut berasal dari dana perbankan, sehingga timbul pertanyaan mengenai situasi perbankan saat ini.

BPR menjadi salah satu sektor perbankan yang turut menyasar properti dalam penyaluran kreditnya. Meski porsinya tidak banyak, kondisi ini tentu turut memberikan dampak bagi keberadaan BPR di Bali khususnya. Sekjen Perbarindo Bali Made Suarja, Rabu (10/2), mengatakan, dengan manajemen risiko yang baik membuat BPR masih tetap kuat bertahan di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Menurutnya, situasi perbankan saat ini bukan hanya dipengaruhi sektor properti yang membuat menurun secara umum, melainkan pada kondisi global terutama pariwisata di Bali yang lama terdiam akibat pandemi Covid-19.

Dipaparkannya, sebelum pandemi ekonomi secara global sudah melemah. Hal ini membuat masyarakat lebih berpikir untuk melakukan sesuatu sehingga banyak dana yang masuk, namun tidak banyak yang keluar (penyaluran kredit lebih kecil). Hal ini membuat terjadi penumpukan dana dan telah memberi pengaruh terhadap operasional BPR.

Masuknya BPR ke properti, menurutnya, karena pasar cukup bagus. Selain itu, masyarakat juga nampak lebih tertarik ke BPR dalam urusan pembiayaan properti karena persyaratan yang diberikan tidaklah rumit. “BPR pada dasarnya tidak memilih pasar. Jadi yang penting cocok mitigasi risiko pas, kita ambil,” terangnya.

Terkait kondisi saat ini untuk pembiayaan sektor properti, Suarja mengatakan, BPR masih tetap kuat bertahan dengan manajemen risiko yang dilakukan. Porsi yang diambil sesuai dan mitigasi yang dilakukan juga baik.

Praktisi BPR, Nengah Sutha Semadi, menambahkan, sebelum pandemi Covid-19 terjadi, sektor properti sudah mengalami penurunan. Hal itu sudah dimulai sejak 2017 lalu. Dengan itu pihak perbankan khususnya BPR telah menurunkan segmen properti. “Apalagi sekarang kita hanya menyasar yang kecil-kecil,” ungkapnya sembari mengatakan persentase kredit di properti hanya 20-25 persen.

Semadi berharap, dengan vaksin yang sudah dilakukan dan prokes tetap dijalankan dengan disiplin, ekonomi Bali berangsur pulih dan penyaluran kredit di perbankan pun mengikuti. *wid

BAGIKAN