BPR harus Cerdas Hadapi Risiko Tingginya NPL  

Tingginya angka kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), mendorong BPR menghadapi risiko kredit yang bisa diselesaikan melalui jalur hukum.

Mangupura (bisnisbali.com) –Tingginya angka kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), mendorong BPR menghadapi risiko kredit yang bisa diselesaikan melalui jalur hukum. BPR dituntut cerdas menghadapi risiko tingginya NPL.

Wakil Ketua DPD Perbarindo Bali, AA Ngurah Sudiptha Panji, Jumat (15/11) mengatakan, kredit bermasalah ini menurunkan kinerja BPR. Apalagi penyelesaian kredit bermasalah dan kredit macet melalui jalur hukum tentunya BPR kemungkinan akan menghadapi risiko kerugian termasuk tuntutan secara hukum.

Direktur Utama PT BPR Sari Wira Tama ini menjelaskan, untuk menghadapi risiko NPL tinggi dibutuhkan sebuah langkah yang cerdas dan efisien. Hal ini dimulai dari penawaran kredit sampai penyelesaian kredit bermasalah.

Ia memaparkan, semua proses kredit terakomodir dengan baik dan benar secara hukum. Hal ini akan memperkuat posisi BPR saat menghadapi tuntutan hukum dari debitur.

Lebih lanjut dikatakannya, sektor perbankan berharap situasi makro ekonomi segera pulih. Dengan begitu, sektor UMKM yang menjadi fokus pasar BPR cepat bangkit dari keterpurukan.

Ia mengatakan, ketika kemampuan debitur membayar angsuran menurun, praktis BPR mengambil langkah-langkah penyelesaian kredit bermasalah, di antaranya pengambil alihan jaminan melalui surat penyerahan secara sukarela.

AA Ngurah Sudipta Panji menambahkan, langkah sita eksekusi jaminan melalui balai lelang atau KPKNL dengan atau tanpa penetapan pengadilan hingga proses likuidasi jaminan dianggap langkah penyelesaian akhir. Hanya saja dalam proses lelang, BPR menghadapi  situasi yang dilematis  di tengah-tengah kewajibannya memenuhi kecukupan permodalannya. *kup

BAGIKAN