BPR Efektifkan Penanganan Kredit Bermasalah 

Bank perkreditan rakyat (BPR) tidak boleh tutup mata dengan masih tingginya angka kredit bermasalah (NPL) pada 2020.

KREDIT – Aktivitas penyaluran kredit yang sehat ke sektor UMKM.

Gianyar (bisnisbali.com) –Bank perkreditan rakyat (BPR) tidak boleh tutup mata dengan masih tingginya angka kredit bermasalah (NPL) pada 2020. BPR harus lebih efektif guna menangani permasalahan tersebut.

Ketua DPK Perbarindo Gianyar, Made Sarwa, Minggu (27/1) mengungkapkan, langkah-langkah untuk menekan NPL adalah dengan meningkatkan kualitas pembinaan nasabah kredit. Hal ini terutama pembinaan kepada nasabah yang sudah mendapatkan fasilitas kredit dari BPR.

Ia menjelaskan, BPR tidak hanya membina debitur bermasalah, karena tidak mampu membayar angsuran kredit. BPR juga wajib membina debitur yang lancar. Hal ini merupakan upaya menjaga nasabah tetap loyal kepada BPR.

Sarwa memaparkan, BPR pada 2020 tidak hanya menjalankan penyelamatan kredit. Pengurus BPR juga memiliki kewajiban mengenjot penyaluran kredit.

Lebih lanjut dikatakannya, penyaluran kredit memiliki misi mendorong peningkatan pendapatan BPR. Untuk itu, BPR dituntut mampu menyalurkan kredit secara sehat.
Ia menegaskan, BPR wajib mengikuti norma-norma pemberian kredit walaupun dalam kondisi apapun. “BPR tidak perlu terlalu emosi dan berspekulasi tinggi dalam penyaluran kredit,” katanya.

Sekretaris DPD Perbarindo Bali, Made Suarja mengatakan, pada 2020 diprediksi pertumbuhan kredit BPR masih sedikit melambat akibat perlambatan ekonomi secara global.

Direktur BPR Udary ini menjelaskan, dalam kondisi ekonomi melambat, BPR tersebut tentu berisiko dalam penyaluran kredit. Mengantisipasi risiko tersebut BPR sangat berhati-hati dalam penyaluran kredit.

Suarja menegaskan, pada 2020 BPR harus betul-betul selektif menyalurkan kredit. Para spekulan ini tidak lagi dibiayai BPR. Kredit hanya diberikan BPR kepada debitur yang benar-benar membutuhkan dan bukan untuk kepentingan spekulasi. *kup

BAGIKAN