BPD Bali Dukung Pengembangan Kerajinan Dulang Resin

Di tengah pandemi Covid-19, peran perbankan sangat diperlukan bagi UMKM terutama terkait permodalan dan keringanan pembayaran kredit.

Gianyar (bisnisbali.com) –Di tengah pandemi Covid-19, peran perbankan sangat diperlukan bagi UMKM terutama terkait permodalan dan keringanan pembayaran kredit. Hal inilah yang dirasakan UMKM kerajinan dulang resin fiberglass di Desa Bresela, Kecamatan Payangan.

Seperti dikatakan perajin dan pemilik Sari Karya Utama, Nyoman Kartana. Kata dia, pandemi Covid-19 membuat produksi aneka produk sarana upacara dari bahan resin menurun drastis yakni hingga 85 persen. Sebelum pandemi, pihaknya mampu memproduksi 1.000 pcs. Namun kini di tengah pademi Covid-19, produksi mengalami penurunan menjadi kisaran 100 pcs. Alhasil, untuk mengembangkan usaha terasa berat, termasuk membayar kewajiban kredit.

“Untungnya kami mendapatkan kemudahan dalam membayar kredit dari Bank BPD Bali yaitu penundaan pembayaran pokok melalui program restrukturisasi kredit. Pelaku UMKM juga dimudahkan karena hanya membayar bunga,” katanya.

Sebelumnya pada 2019 ia mendapat bantuan permodalan melalui mekanisme KUR BPD Bali mencapai Rp 300 juta. Bantuan permodalan digunakan untuk modal usaha dan pengembangan produk seperti pembuatan desain atau master dengan ukiran.

Diakuinya, sejak dua tahun yang lalu menjadi UMKM Binaan Bank BPD Bali, banyak kemudahan diperoleh dalam pengembangan usaha. Sebelum ada bantuan Bank BPD Bali, pihaknya hanya memproduksi puluhan produk per bulan dan memiliki lima pegawai. Dengan adanya bantuan permodalan, ia bisa menambah karyawan dan peningkatan produksi sampai dua kali lipat, termasuk memanfaatkan QRIS BPD Bali dalam mendukung transaksi pembayaran secara nontunai.

Ia mengatakan, ada kurang lebih 50 jenis produk yang dihasilkan di antaranya dulang prani, boga, tataan oenyeneng, tigasan , gebogan, keben, bokoran dan lainnya dari bahan resin. Bahan resin sengaja dipilihnya karena selain kualitasnya yang baik, bahannya pun dapat didaur ulang sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Berbagai produk yang melibatkan masyarakat desa ini dibanderol dengan harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 500 ribuan.

“Produk yang saat ini tengah digemari masyarakat Bali yaitu dulang prani. Keistimewaannya karena kami mengutamakan kualitas cetakan, penggunaan cat prada dan finishing,” jelas Nyoman Kartana.

Sementara itu, Direktur Operasional Bank BPD Bali, I.B. Setia Yasa menerangkan, pihaknya berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah RI sesuai Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Covid-19 sekaligus membantu pelaku usaha lokal Bali dapat tetap mempertahankan usahanya dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Bank BPD Bali menyalurkan kredit yang dananya bersumber dari penempatan uang negara di Bank BPD Bali dengan jumlah Rp 700 miliar yang kemudian wajib disalurkan berupa fasilitas kredit dengan total Rp 1,4  triliun,” katanya. Penyalurkan kredit difokuskan kepada UMKM dan sektor produktif lainnya melalui berbagai produk kredit Bank BPD Bali termasuk KUR kepada debitur baru maupun debitur eksisting yang memerlukan tambahan modal kerja.*dik

BAGIKAN