Penjual obor dan kentongan, I Ketut Sudra, memperlihatkan obor buatannya.

Denpasar (bisnisbali.com) – Bisnis obor dan ‘kulkul’ atau kentongan,  menjelang hari raya Nyepi, menjadi bisnis musiman yang cukup menjanjikan. Penjual obor dan kentongan, I Ketut Sudra, mengaku pesaing belum ketat padahal kebutuhan masyarakat cukup tinggi. Namun ia khawatir, dengan adalah penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) akan berdampak pada penjualan.

Tradisi mengarak ogoh-ogoh keliling desa, sebagai lambang mengusir butakala saat malam pengerupukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi, memberi peluang bisnis bagi mereka yang kreatif.  Melihat anak muda sering kebingungan membuat obor dan kentongan yang akan dibawa  saat mengarak ogoh-ogoh, menjadi peluang bisnis bagi Ketut Sudra.

“Peluang bisnis obor ke depannya menurut saya prospeknya sangatlah bagus khususnya saat pengerupukan. Karena ke depannya bambu itu memang agak sulit dicari di Denpasar, terutama di wilayah perkotaan,” tutur Ketut Sudra, sambil merapikan dagangannya.

Pria yang berjualan di Jalan Pulau Seulus, Pedungan Denpasar, tersebut mengaku mencari bambu di desa agak mudah, sedangkan masyarakat di perkotaan sangat sulit mencari bahan baku membuat obor. “Saya lihat banyak orang bingung membuat obor karena pohon bambu di Denpasar sudah langka, makanya mereka memilih untuk membeli. Karena sangatlah praktis mereka langsung bisa membeli komplit dengan minyaknya,” ungkapnya Minggu (22/3) di Denpasar.

Dengan merebaknya virus Corona, yang mengakibatkan pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan berbagai kebijakan, termasuk menghimbau untuk tidak dilakukan tradisi mengarak ogoh – ogoh, ia mengaku tetap optimis.

“Saya berharap dengan adanya virus corona ini tidak mempengaruhi penjualan obor. Karena masyarakat memang memerlukan obor tersebut untuk upacara di rumah pada sore pengerupukan tersebut. Biasanya obor yang saya jual tersebut ramai dibeli pada saat hari H sebelum acara pengerupukan sore tersebut,” ucapnya. Sehingga ia belum bisa memastikan penjualanya, apakah akan menurun atau tetap stabil.

Kalau dilihat dari tahun-tahun sebelumya, ia membuat 250 batang obor dan habis semuanya terjual, tidak ada satupun yang tersisa termasuk kulkulnya. Tahun ini ia mengaku membuat sekitar 250 batang obor, dan berharap dapat habis terjual seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu ia tidak menaikkan harga yaitu tetap Rp20 ribu per batang sudah lengkap dengan minyaknya. *pur

BAGIKAN