Biaya Produksi Tinggi, Jumlah Peternak Ayam Menciut

Jumlah peternak ayam yang bergerak di sektor usaha ayam pedaging dan ayam petelur di Kabupaten Tabanan mengalami penurunan alias menciut saat ini.

AYAM PETELUR – Salah satu usaha ayam petelur di Kabupaten Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Jumlah peternak ayam yang bergerak di sektor usaha ayam pedaging dan ayam petelur di Kabupaten Tabanan mengalami penurunan alias menciut saat ini. Meski begitu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Ir. I Nyoman Budana, M.M. menilai tidak signifikan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan akan hasil perunggasan di pasaran.

Penurunan jumlah pelaku usaha peternakan unggas tercermin dari data di Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Tahun 2019, Dinas Pertanian Tabanan mencatat populasi ayam petelur mencapai 1.046.346 ekor dan pada 2020 turun tajam menjadi hanya 855.663 ekor. Hal sama juga terjadi pada populasi ayam pedaging. Pada 2019 populasi mencapai 2.294.985 ekor, sedangkan tahun 2020 turun menjadi 2.080.540 ekor.

Budana mengakui ada kecenderungan jumlah peternak khususnya yang bergerak di sektor perunggasan, baik ayam pedaging maupun ayam petelur, mengalami penurunan. Salah satu penyebab utamanya karena kian mahalnya biaya produksi, khususnya harga pakan yang terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, kenaikan biaya tersebut tidak searah dengan daya beli masyarakat yang cenderung turun dampak pandemi Covid-19. “Kenaikan harga pakan dan daya beli masyarakat yang rendah melemahkan gairah peternak untuk berproduksi. Sebab, peternak tidak berdaya membeli harga pakan yang makin mahal,” tuturnya, Selasa (4/5) kemarin.

Dikaitkan dengan ketahanan pangan, penurunan jumlah peternak memang berpotensi berpengaruh. Oleh sebab itu, ia mengharapkan ada bantuan sosial (bansos) yang menyasar sejumlah kelompok usaha peternakan di Kabupaten Tabanan. Upaya menjaga ketahanan pangan ini sekaligus untuk membantu kelompok tani dari dampak pandemi termasuk menyikapi mahalnya biaya produksi. “Kalau ketahanan pangan tidak bisa ditopang oleh daging ayam, mungkin komoditi daging lainnya bisa kami topang untuk menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Menurut Budana, saat ini cukup banyak kelompok peternak di Kabupaten Tabanan yang dibantu dengan program bansos. Di antaranya menyasar kelompok peternak babi dan kelompok peternak ayam untuk upakara (caru). Di sisi lain, saat bansos untuk peternakan ayam pedaging dan ayam petelur belum ada, sebagian besar kondisi peternak perunggasan berusaha secara mandiri dan beberapa membentuk pola kemitraan dengan pabrikan.

Meski terjadi penurunan jumlah peternak sekaligus pengurangan jumlah populasi produksi daging ayam dan telur ayam, kemungkinan tidak akan signifikan berpengaruh pada kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pasar masyarakat di Kabupaten Tabanan. Sebab, di tengah menurunnya daya beli konsumen, untuk memenuhi kebutuhan hasil perunggasan tersebut masih mencukupi. Bahkan, banyak hasil  peternakan unggas di Tabanan dipasarkan ke luar daerah. *man

BAGIKAN