BI Tetap Optimis Ekonomi Bali Tumbuh Positif

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali masih menaruh optimisme perekonomian Bali pada 2021 mampu tumbuh positif.

PARIWISATA - Payung dan kursi pantai yang kosong di Pantai Semawang, Sanur. Perekonomian Bali melesu akibat pariwisata terpuruk.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali masih menaruh optimisme perekonomian Bali pada 2021 mampu tumbuh positif. Hal itu seiring dengan dimulainya distribusi vaksin Covid-19 yang berdampak pada perbaikan level of confidence pelaku usaha dan perbaikan mobilitas domestik.

“Di samping itu, rencana peningkatan investasi swasta dan pemerintah juga turut mendorong pertumbuhan di 2021,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho, di Renon, Selasa (27/4).

Trisno memaparkan, pada triwulan I, ekonomi Bali diperkirakan tumbuh dalam kisaran -6,1 persen sampai dengan -5,1 persen. Pertumbuhan positif ini diperkirakan akan dimulai pada triwulan II sehingga secara keseluruhan tahun 2021 perekonomian diperkirakan tumbuh positif dalam kisaran 2,5 persen sampai dengan 3,5 persen.

Ia pun menerangkan, berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) minggu ketiga April 2021, perubahan harga di Bali sebesar 0,25 persen. Dengan demikian, perkiraan inflasi April 2021 sebesar 0,13 persen sampai dengan  0,33 persen. Perubahan harga lebih didominasi oleh meningkatnya harga daging ayam ras dan canang sari, karena meningkatnya permintaan pada hari raya keagamaan. Harga cabai rawit yang meningkat di awal tahun, sudah mencapai puncaknya dan mulai mengalami penurunan harga secara perlahan-lahan. “Terkendalinya inflasi ditopang oleh pasokan barang khususnya bumbu dapur dan beras yang lancar dan mencukupi untuk Bali,” ujarnya.

Inflasi tahun 2021 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2020, namun masih dalam rentang 3 persen ±1 persen. Lima faktor utama yang menjadi pendorong meningkatnya inflasi tahun 2021 yakni, pertama, meningkatnya aktivitas pariwisata pasca-Covid-19. Kedua, peningkatan daya beli masyarakat. Ketiga, normalisasi harga tiket angkutan udara dan pemberlakuan kembali airport tax. Keempat, adanya peningkatan cukai rokok, dan kelima, peningkatan biaya sekolah yang ditiadakan pada tahun 2020.

Selanjutnya, Trisno merekomendasikan enam langkah strategis. Pertama, akselerasi penanganan Covid-19 dan pelaksanaan vaksinasi. Kedua, akselerasi realisasi belanja pemerintah dan perluasan penerima hibah pariwisata. Ketiga, akselerasi reaktivasi wisman melalui mekanisme travel bubble. Keempat, reorientasi ke pasar wisatawan domestik. Kelima, akselerasi hilirisasi pertanian dan industri. Keenam, akselerasi realisasi invetasi melalui pembentukan investment centre dan creative financing. Terakhir, peningkatan produktivitas pertanian melalui digitalisasi pertanian. *dik

BAGIKAN