BI Prediksi Inflasi di Bali Tetap Terkendali

Bank Indonesia (BI) Bali memprediksi pada Oktober 2020 inflasi akan tetap terkendali.

INFLASI - Seorang warga tengah membeli kebutuhan sehari-hari di Pasar Anyar Sari, Denpasar. Guna memastikan inflasi terjaga, TPID terus berupaya menjalankan program kestabilan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) –Bank Indonesia (BI) Bali memprediksi pada Oktober 2020 inflasi akan tetap terkendali. Ke depan, BI akan tetap berkolaborasi bersama TPID kabupaten/kota dan provinsi agar laju inflasi dan kestabilan harga di masyarakat tetap terus terjaga.

“Selain itu, BI terus mendorong digitalisasi pemasaran produk pertanian melalui platform digital di antaranya melalui market place lokal guna menahan laju penurunan harga produk pertanian,” kata Kepala Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho di Renon, Jumat (2/10).

Ia mengatakan, TPID kabupaten/kota dan provinsi terus berupaya menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat. TPID terus melakukan upaya dan inovasi untuk meningkatkan penyerapan komoditas pertanian utamanya komoditas hortikultura dengan berbagai program, antara lain Pasar Gotong Royong.

Sementara itu, bila melihat kondisi di September 2020, Trisno mengakui, Bali kembali mengalami deflasi, setelah sebelumnya pada 2 bulan berturut-turut mengalami deflasi pada bulan Juli dan Agustus 2020. Penurunan harga kembali terjadi pada kelompok makanan bergejolak (volatile food) dan harga barang yang diatur pemerintah (administered prices). “Adapun kelompok inflasi inti (core inflation) masih tercatat meningkat,” ujarnya.

Kelompok barang core inflation pada bulan September mencatat inflasi sebesar 0,23 persen (mtm), melandai dibandingkan dengan bulan Agustus yang tercatat inflasi sebesar 0,34 persen (mtm). Tekanan inflasi ini terjadi terutama pada canang sari, ayam goreng, dan vitamin. Peningkatan harga canang sari dan ayam goreng disebabkan oleh adanya hari raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada bulan September.

Sementara itu, berdasarkan perhitungan dari data inflasi Kota Denpasar dan Singaraja yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, pada September 2020 Provinsi Bali mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (mtm), lebih dalam dibandingkan dengan deflasi Nasional tercatat sebesar 0,05 persen (mtm). Deflasi juga terjadi pada kota Denpasar sebesar 0,16 persen (mtm), sedangkan kota Singaraja mencatat inflasi sebesar 0,27 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 0,95 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang sebesar 1,42 persen (yoy).

Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,43 persen (mtm), masih terkontraksi namun lebih terbatas jika dibandingkan dengan Agustus 2020 (-2,01 persen, mtm). Penurunan terdalam berlanjut untuk komoditas daging ayam ras, tomat, dan bawang merah. Turunnya harga daging ayam ras disebabkan oleh pasokan DOC dan ayam yang tinggi, di tengah permintaan yang masih lemah.

“Penurunan harga tomat dan bawang merah seiring dengan adanya panen raya yang jatuh pada bulan September dan diprakirakan masih berlanjut hingga Oktober mendatang,” paparnya.

Kelompok barang administered price mencatat deflasi sebesar -0,30 persen (mtm). Penurunan tekanan harga pada kelompok ini disebabkan oleh turunnya tarif angkutan udara dan angkutan kota. Turunnya harga angkutan kota sejalan dengan subsidi BBM yang diberikan oleh pemerintah serta penurunan mobilitas masyarakat seiring dengan peningkatkan penyebaran Covid-19. Adapun penurunan harga tiket pesawat merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh maskapai untuk meningkatkan jumlah penumpang. *dik

BAGIKAN