BI Prediksi Februari Kenaikan Harga lebih Tinggi

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memprediksi kenaikan harga pada Februari 2020 sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari 2020.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memprediksi kenaikan harga pada Februari 2020 sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari 2020. Itu terjadi karena adanya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang dapat mendorong peningkatan permintaan berpotensi mendorong tekanan harga.
“Selain itu, frekuensi hujan dan gelombang laut tinggi yang berpotensi menahan produksi dan distribusi khususnya bahan makanan,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Trsino Nugroho di Renon, Rabu (5/2).

Meskipun demikian, BI memperkirakan inflasi ke depan hingga akhir tahun akan tetap terkendali dan berada pada kisaran sasaran 3,0±1%. Ia pun menerangkan pada Januari 2020, Bali mengalami inflasi 0,57 persen (mtm), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (mtm).
Pencapaian inflasi Bali bulan Januari ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat 0,39 persen (mtm). Sementara itu secara tahunan, inflasi Bali tercatat 2,45 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan nasional 2,68 persen (yoy). Dengan demikian, inflasi Bali pada Januari 2020 berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0%±1% (yoy).
Bank sentral juga mencatat inflasi terjadi pada kedua kota sampel IHK yaitu kota Denpasar yang tercatat 0,55 persen (mtm) dan kota Singaraja mencatat inflasi 0,67 persen (mtm). Di Kota Denpasar dan Singaraja, inflasi bersumber dari kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau masing-masing 2,72 persen (mtm) dan 2,01 persen (mtm).
Dalam menghadapi tingginya inflasi pada kelompok makanan tersebut, BI Bali secara konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran.

“Melalui TPID, kegiatan pengendalian inflasi tetap diarahkan pada tercapainya 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi ekspektasi,” jelasnya.
Kegiatan yang dilakukan antara lain berupa pasar murah yang telah diselenggarakan di beberapa kabupaten di Bali guna mengendalikan gejolak harga.
Trisno mengungkapkan meskipun sempat terjadi kenaikan harga pada cabai rawit di atas Rp100 ribu, namun kenaikan tersebut hanya terjadi beberapa hari saja sehingga rata-rata harga cabai sepanjang Januari masih dalam batas wajar.
“Meningkatnya tekanan harga juga terlihat pada komoditas cabai merah, bawang merah dan rokok putih,” ujarnya.

Peningkatan harga komoditas hortikultura pada umumnya terjadi disebabkan keterbatasan pasokan yang hanya terjadi pada saat curah hujan yang tinggi sehingga tidak menyebabkan kenaikan harga secara umum. Selain itu kenaikan yang minimal juga tertahan oleh penurunan harga BBM nonsubsidi pada 5 Januari 2020. Peningkatan terjadi hanya pada komoditas cukai rokok mendorong peningkatan sedikit kenaika harga rokok pada Januari. *dik

BAGIKAN