BI 7DRR Turun, Dunia Usaha Diharapkan Bisa Bertahan Hadapi Covid-19

Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuannya atau BI 7 day reverse repo rate (BI 7DRR) di kisaran 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen pada Maret 2020 ini.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuannya atau BI 7 day reverse repo rate (BI 7DRR) di kisaran 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen pada Maret 2020 ini. Penurunan BI 7DRR ini diharapkan bisa membuat masyarakat, pengusaha dan dunia usaha bisa bertahan bahkan tumbuh sehingga mampu menghadapi kondisi ekonomi dampak dari covid-19.
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho di Renon, Jumat (20/3) mengatakan, dalam upaya menjaga pertumbuhan ekonomi BI mendukung upaya OJK yang mengeluarkan POJK terkait stimulus bagi debitur terdampak virus corona.

“BI dan OJK tentu saling mendukung untuk menjaga ekonomi Indonesia tetap bertahan,” katanya.
Bank sentral pun ikut serta dengan menurunkan BI 7DRR dengan harapan dapat membantu keleluasan bank menurunkan bunga kreditnya dan bank bisa memberikan kredit kepada pelaku usaha.
“Kami harapkan agar masyarakat atau pengusaha bisa bertahan untuk usahanya,” katanya.Trisno pun memaparkan BI menurunkan suku bunga kebijakan ini merupakan kedua kalinya dilakukan pada 2020 setelah penurunan 25 bps pada Februari 2020. Sebelumnya BI 7DRR bertahan di level 5 persen sejak Oktober 2019.

Mengapa BI kembali turunkan suku bunga?. Kata dia kebijakan ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang turut merasakan dampak ekonomi akibat wabah Covid 19. Kebijakan moneter yang akomodatif tersebut masih konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran.
Penyebaran Covid 19 ke berbagai negara di luar Tiongkok memberikan tekanan kepada perekonomian dunia. Penyebaran covid 19 yang sangat luas menyebabkan ketidakpastian yang sangat tinggi dan menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan banyak mata uang dunia serta memicu pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman.
Menghadapi Covid 19, BI menempuh 7 kebijakan yaitu pertama memperkuat intensitas kebijakan triple intervention. Kedua memperpanjang tenor Repo SBN hingga 12 bulan dan menyediakan lelang setiap hari.

Ketiga menambah frekuensi lelang FX swap tenor 1 bulan 3 bulan 6 bulan dan 12 bulan dari tiga kali seminggu menjadi setiap hari. Keempat, memperkuat instrumen deposit valuta asing. Kelima mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening rupiah dalam negeri atau vastro bagi investor asing sebagai underlying dalam transaksi DNDF. Kebijakan keenam, memperluas kebijakan insentif pelonggaran GWM harian dalam rupiah sebesar 50 basis poin. Selanjutnya ketujuh memperkuat kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung upaya mitigasi penyebaran covid 19 melalui ketersediaan uang layak edar yang higienis dan mengimbau masyarakat agar lebih banyak menggunakan transaksi pembayaran secara nontunai, mendorong penggunaan pembayaran nontunai dengan menurunkan biaya sistem kliring nasional Bank Indonesia atau SKNBI dan mendukung penyaluran dana nontunai dan program-program pemerintah.

Selain itu, Trisno menambahkan langkah-langkah pendukung lainnya berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah khususnya kemenkeu OJK dan LPS untuk memantau mencermati dan menempuh langkah yang diperlukan bersama dalam mitigasi dampak covid 19 terhadap makroekonomi dan SSK Indonesia. Memastikan terjaganya market confidence, menjalankan mekanisme pasar dan menjaga kecukupan likuiditas untuk memastikan kelangsungan tugas BI berjalan baik. BI juga melakukan langkah mitigasi seperti split operation dan work from home terus mengupdate media dan masyarakat secara reguler briefing kebijakan terkini.*dik

BAGIKAN