Bertahan, Perajin Desa Belega Jual Bambu Layangan

Akibat pandemi Covid-19, serapan kerajinan bambu mulai dari kursi bambu, meja, rak dan lain mengalami penurunan.

BAMBU - Bilah bambu yang dipasarkan perajin Desa Belega guna mensiasati penurunan permintaan kerajinan bambu.

Gianyar (bisnisbali.com)- Akibat pandemi Covid-19, serapan kerajinan bambu mulai dari kursi bambu, meja, rak dan lain mengalami penurunan. Gede Yasa salah satu perajin bambu Desa Belega, Blahbatuh, Kamis (15/10) mengatakan untuk bertahan perajin bambu Desa Belega jual bambu layangan.

Diungkapkannya, permintaan kerajinan bambu di Desa Belega mengalami penurunan mulai Maret 2020. Penurunan ini murni imbas pandemi Covid-19.

Ia menjelaskan ketika permintaan kerajinan bambu menurun praktis perajin bambu beralih profesi atau tetap bertahan menjadi perajin bambu. Tidak sedikit perajin bambu beralih profesi menjadi buruh bangunan atau penjual rumah gasebo.

Gede Yasa memaparkan tidak sedikit perajin bambu bertahan dengan memproduksi kerajinan bambu. Selama tidak ada pesanan, perajin bambu menjual bilah bambu untuk layangan.

Menurut Yasa, satu bambu betung bisa dibelah menjadi 4-6 lujur atau bilah. Satu lujur atau bilah bambu ini dijual Rp 20.000.

Senada dikatakan Nyoman Ramli, musim layanan ini menjadi inspirasi perajin bambu untuk menjual bilah bambu untuk bahan layangan. Penjualan bilah bambu untuk layangan menjadi bagian strategi perajin bambu untuk bertahan.

Diakuinya, selama pandemi Covid-19 perajin di Desa Belega sudah membatasi pembelian pasokan bambu dari Tabanan. Khusus bambu betung yang dibeli dari Tabanan dibelah untuk dijual sebagai bahan baku layangan. ” Banyak kalangan muda di Gianyar membeli bilah bambu untuk layangan,” tambah Ramli. *kup

BAGIKAN