Bertahan di Tengah Covid-19 perlu Digitalisasi Seluruh Kehidupan

Di tengah covid-19, upaya bertahan yang harus dilakukan adalah melakukan digitalisasi di seluruh sisi kehidupan termasuk di dalamnya digital payment.

Denpasar (bisnisbali.com) –Di tengah covid-19, upaya bertahan yang harus dilakukan adalah melakukan digitalisasi di seluruh sisi kehidupan termasuk di dalamnya digital payment.
“Hal ini dikarenakan media fisik seperti uang dan kartu memiliki risiko menjadi perantara penyebaran covid-19, oleh karena itu contacless payment perlu digunakan pada saat kondisi saat ini,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho di Renon, Rabu (27/5).

Ia mengatakan agar bertahan di tengah covid-19 perlu digitalisasi seluruh sisi kehidupan, baik itu digital marketing maupun payment. Bagaimana itu bisa dilakukan, ia menyampaikan, caranya yaitu mengikuti tren pembayaran secara nontunai-digital sehingga meningkatkan market dan traffic (cross border).
“Kenapa mengarah ke digital karena cara pembayaran paling aman dan murah di era covid-19 dibanding metode lain,” ujarnya.
Selain itu, cara ini bisa mengurangi risiko atau biaya pengelolaan uang tunai dan tidak memerlukan uang kembalian. Uang penjualan langsung tersimpan di bank dan bisa dimonitor setiap saat, risiko uang tunai hilang atau dicuri menurun hingga penurunan risiko rugi karena menerima pembayaran dengan uang palsu.

Selanjutnya transaksi tercatat otomatis, sistematis dan bisa dilihat histori transaksi. Terpisahnya rekening personal dengan rekening bisnis, termasuk kemudahan pembayaran tagihan, retribusi, pembelian stock tanpa meninggalkan toko.
“Bisa pula melancarkan proses bisnis, seperti menghilangkan pekerjaan rekonsilisasi, data base permintaan pelanggan tersedia. Membangun data (credit profile) untuk membantu financing ke depan,” terangnya.

Ini pula kata Trisno, bank sentral mengeluarkan kebijakan mendorong QRIS di tengah covid-19 dengan cara pemberlakuan MDR 0 persen untuk merchant usaha mikro 1 April- 30 September 2020. Meminta PJSP membuka pendaftaran merchant secara online dan pemuatan informasinya di website BI. Penggunaan QRIS tanpa tatap muka (QRIS TTM). Peningkatan akusisi merchant tematik, fokus pada segmen yang diperbolehkan di Permenkse No.9 tahun 2020.

Selanjutnya juga kolaborasi dengan kementerian terkait di tingkat pusat dan pemda atau dinas terkait di tingkat dearah termasuk asosiasi setempat. “Menyusun strategi implementasi seperti sosialisasi dan edukasi dengan berbagai media baik social media BI dan PJSP, webinar, media cetak dan lainnya,” paparnya.
Diakui strategi peningkatan akseptasi QRIS untuk mendukung mitigasi covid-19 salah satunya dilakukan melalui inovasi use-case QRIS tanpa tatap muka. Inovasi use-case QRIS tanpa tatap muka, kata dia, diprioritaskan mendukung sektor tematik seperti ritel kebutuhan pokok, kesehatan dan donasi.*dik

BAGIKAN