Bergantung pada Pariwisata, Pertanian Bali Pingsan Sesaat

Di tengah pandemi Covid-19 yang membuat matinya pariwisata tentu sangat menguncang perekonomian Bali.

TERDAMPAK - Meski termasuk yang paling kuat saat ini, sektor pertanian juga terdampak Covid 19, mengingat sangat tergantung pada aktivitas pariwisata di Bali.   

Denpasar (bisnisbali.com) –      Di tengah pandemi Covid-19 yang membuat matinya pariwisata tentu sangat menguncang perekonomian Bali. Termasuk pertanian meski dikatakan sektor yang paling kuat saat ini, namun juga terdampak mengingat sangat bergantung pada aktivitas pariwisata di Bali.

Hal tersebut bisa dilihat dari anjloknya harga beberapa produk pertanian Bali di tengah pandemi, mulai dari sayur hingga buah yang pasokannya melimpah di pasaran sejak beberapa bulan terakhir. Semua dikarenakan serapan di sektor pariwisata minim serta lemahnya daya beli masyarakat karena tidak sedikit yang penghasilannya bergantung pada pariwisata.

Guru Besar Agribisnis, Universitas Udayana, Prof. Dr. Made Antara., MS, Rabu (17/6) mengatakan, Pertanian Bali memiliki keterkaitan langsung (direct linkages) dengan pariwisata berupa pasokan produk-produk pertanian untuk hotel dan restoran di destinasi wisata. Begitu juga, pertanian memiliki keterkaitan tidak langsung (indirect linkages) dengan pariwisata berupa pasokan produk-produk pertanian di pasar-pasar umum dan swalayan untuk masyarakat atau rumah tangga yang bekerja di pariwisata. Serta memiliki keterkaitan ikutan (induced linakges) memasok produk untuk warung-warung atau restoran yang dikembangkan oleh pekerja pariwisata.

“Jika pariwisata berkembang dan maju ditandai oleh peningkatan kunjungan wisatawan dan tingkat hunian hotel (occupation rate), maka peluang pasar produk-produk pertanian dan industri kecil-menengah makin besar, sehingga kedua sektor pertanian dan industri kecil yang produk untuk memasok  pariwisata juga kian berkembang,” ujarnya.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, membuat penurunan kunjungan, bahkan tidak ada lagi kunjungan beberapa bulan ini, diikuti penurunan tingkat hunian hotel, restoran banyak tutup hingga berdampak pada banyak karyawan dirumahkan, menandakan sebuah kolaps atau bangkrutnya pariwisata untuk sementara.

“Dampak lanjutannya adalah menurunnya bahkan tidak adanya permintaan produk-produk pertanian dan industri kecil-menengah oleh pariwisata dan sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata,  akibatnya di tingkat produksi juga lesu atau mati suri, sehingga dapat diistilahkan pertanian Bali pingsan (lupa diri sementara) dan industri kecil-menengah sempoyongan,” terangnya.

Demikian pula, kolapsnya pariwisata dikatakan menurunkan daya beli masyarakat Bali secara umum, karena banyak masyarakat Bali aktivitasnya terkait dengan pekerja pariwisata. Namun menurut Prof. Antara, semuanya bersifat sementara, tergantung pada cepat atau lambatnya pemulihan (recovery) pariwisata dari kolaps. *wid

BAGIKAN