Bentuk Ekosistem, Jadi Harapan  Revitalisasi Kawasan Gajah Mada

Kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar menjadi salah satu ikon pusat perekonomian di Kota Denpasar.

Kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar menjadi salah satu ikon pusat perekonomian di Kota Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) -Kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar menjadi salah satu ikon pusat perekonomian di Kota Denpasar. Kawasan penuh interaksi sosial, ekonomi, budaya,  dari keturunan pedagang Cina, Arab, dan Jawa berinteraksi dengan masyarakat Bali yang kini mendapatkan sentuhan revitalisasi dari Pemerintah Kota Denpasar. Melalui kolaborasi dengan pembentukan ekosistem menjadi hal yang diharapkan dalam revitalisasi kawasan heritage ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wali Kota Denpasar,  dalam satu acara belum lama ini. Dijelaskannya, pembentukan ekosistem dapat dilakukan dalam posisi dan kompetensi masing-masing. “Pembentukan ekosistem Ini yang sangat  saya harapkan. Ada pemerintah, DPRD, lembaga adat, komunitas pedagang, komunitas seniman, serta komunitas funding, sehingga terbangun publik value dan private value,” ujar Rai Mantra

Demikian ekosistem yang dimaksud harus berjalan dengan baik serta bersama pemerintah nantinya mampu menumbuhkan tingkat perekonomian. Diharapkan pula nantinya dapat dilakukan transformasi, serta co-branding secara luas seperti komponen pariwisata mampu melihat perkembangan market dalam menyusun strategi. Terlebih saat ini telah memasuki revolusi industri 4.0 dan akan ada perubahan bisnis model ke depan. Tidak saja mengikuti mekanisme digitalisasi teknokogi, tapi juga mampu memberikan sentuhan rasa yang tinggi.

“Kita harus lakukan strategi interaksi yang ada karena Jalan Gajah Mada bukan hal baru, namun mampu merevitalisasi untuk menghidupkan kembali. Mari kita bangun nilai dari kawasan ini terlebih dahulu sehingga nantinya mampu memiliki nilai sustainable. Untuk itu dibutuhkan story talling melalui sejarawan dari kalangan akademisi. Karena dari cerita yang ada keberadaan nasi jinggo Denpasar lahir di Gajah Mada, serta terdapat salah satu toko kopi yang sangat legendaris di kawasan ini,” jelasnya.

Sementara Kelompok Ahli Denpasar, Putu Rumawan Salain,  mengatakan, kawasan Gajah Mada yang merupakan warisan pusaka, dibutuhkan story talling dengan keterlibatan akademisi dan sejarawan yang mampu menceritakan keberadaan kawasan ini. “Artinya kita mampu menceritakan kepada khalayak banyak bahwa kawasan ini memiliki nilai pusaka dan nantinya mampu menarik kunjungan dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi serta Denpasar mampu menguatkan diri sebagai Kota Pusaka,” ujarnya. *wid

BAGIKAN