Banyak Mati Mendadak, Peternak Desa Jegu Ramai-ramai Jual Babi

Puluhan babi milik peternak di Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan mati mendadak.

BABI - Made Sumardia menunjukkan kandang babi miliknya yang kosong karena 3 diantaranya mati mendadak.

Tabanan (bisnisbali.com) –Puluhan babi milik peternak di Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan mati mendadak. Kondisi tersebut membuat kepanikan sejumlah peternak, sehingga mereka ramai-ramai menjual babi ke saudagar untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Salah seorang peternak babi, Made Sumardia, Dari Banjar Ngis Kaja, Desa Jegu Tabanan, Selasa (21/1) kemarin mengungkapkan, sejumlah peternak babi di Desa Jegu resah. Kondisi tersebut menyusul adanya kasus kematian babi yang secara mendadak. Saat ini banyak peternak yang memilih menjual ternak meski dengan harga murah.

“Biasanya peternak menjual babi per kg di kisaran Rp 25.000-Rp 26.000 per kg. Kini dengan munculnya kasus kematian babi secara mendadak, peternak rela menjual babi meski ditawar jauh dari harga wajar,” tutur Kepala Dusun Banjar Niskaja tersebut.

Jelas Sumardia, harga babi di tingkat peternak di Desa Jegu ini di kisaran Rp 500.000 per ekor untuk berat di atas kuintal. Ada juga babi yang dijual dengan harga Rp 300.000 per ekor untuk babi berat 60 kg. Katanya, saat ini bisa dibilang harga babi di Desa Jegu ini sangat jatuh dari kondisi normal.

Sambungnya, kasus kematian babi secara mendadak di Desa Jegu ini terjadi sejak awal Januari 2020. Paparnya, kasus kematian babi ini pertama kali muncul di Banjar Bendul, Desa Jegu. Kemunculannya saat itu, pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada dinas terkait di Kabupaten Tabanan dan sudah ditindaklanjuti untuk melakukan antisipasi.

Di sisi lain, tambah Sumardia, dari munculnya gejala hingga mengakibat kematian babi berlangsung cepat. Tanda awalnya adalah babi tidak mau makan, keesokan harinya babi lemas dibarengi demam tinggi dan berselang 3-4 hari babi tersebut mati.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, I Wayan Suamba, saat dikonfirmasi terkait kasus kematian babi di Desa Jegu mengungkapkan, hasil sampel darah dari ternak babi yang ada di Desa Jegu masih diragukan. Rencananya nanti hasil tersebut akan dikirim ke Medan untuk memastikan apakah babi tersebut positif terjangkit ASF atau tidak. *man

BAGIKAN