Bank Sampah Kaliber Lakukan Gerakan E- Darling

Dalam upaya menciptakan kesadaran dan partisipasi masyarakat, Bank Sampah Kalibukbuk Bersih (Kaliber) yang juga menjadi salah satu anggota Forum Komunitas Peduli Lingkungan

Salah satu mahasiswa Windesheim University, Lorenzo Pareira asal Belanda, yang mengikuti kegiatan E-Darling di Kabupaten Buleleng. 

Singaraja (bisnisbali.com) – Dalam upaya menciptakan kesadaran dan partisipasi masyarakat, Bank Sampah Kalibukbuk Bersih (Kaliber) yang juga menjadi salah satu anggota Forum Komunitas Peduli Lingkungan di Kabupaten Buleleng mulai melakukan gerakan edukasi sadar lingkungan (E-Darling) di Kabupaten Buleleng.

Melalui program E-Darling  ini sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat diolah kembali. Untuk di Kabupaten Buleleng, dengan adanya bank sampah, terkait dengan pengolahan sampah tidak akan ada masalah lagi dan dalam hal ini masyarakat dapat membantu dalam memilah sampah di lingkungannya masing-masing.

Program lain yang diterapkan yakni pembuatan kerajinan dengan bahan bekas atau recycle yang melibatkan anak-anak difabel tiap Jumat bekerja sama dengan beberapa yayasan, kemudian Sabtu diadakan bimbingan belajar gratis untuk anak-anak SD, cukup dengan membawa sampah anorganik saja.

Program terbaru kami yaitu tiap Minggu kita ada Sanggar Tari Kaliber yang mengadakan les tari gratis juga, dengan nama tarian tari tukar sampah. Hal itu diungkapkan  I Ketut Budiasa salah seorang anggota Forum Komunitas Peduli Lingkungan di Kabupaten Buleleng pada pelaksanaan pasar pangan lokal yang diikuti oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) dan para perajin di Buleleng belum lama ini.
Ia menjelaskan antusias masyarakat Buleleng untuk membeli produk hasil olahan dari sampah yang dihasilkan oleh komunitas tersebut sangat tinggi. Berbagai jenis sampah telah dihasilkan menjadi barang yang bermanfaat, salah satunya terbuat dari alminium foil yang memiliki nilai ekonomis yang rendah, dapat diolah menjadi tempat pensil, gantungan kunci, dompet dan sebagainya. “Jenis sampah yang lain juga seperti kertas, koran, botol berbahan kaca dan kaleng bekas juga sudah kita manfaatkan,” jelasnya.
Sementara itu, ditemui di lokasi yang sama, salah satu mahasiswa Windesheim University, Lorenzo Pareira asal Belanda mengungkapkan hal yang memotivasi dirinya untuk ikut peduli dengan lingkungan di Bali adalah adanya masalah sampah plastik yang memerlukan perhatian lebih untuk mengatasinya, dan program E-Darling ini merupakan hal yang tepat untuk diterapkan. Sebelumnya ia telah mendapatkan pembelajaran gratis tentang penanggulangan sampah plastik di Desa Banyuseri, Kecamatan Banjar tiap Rabu. “Selain itu juga saya dapat belajar bahasa Inggris secara gratis di daerah Lovina,” pungkasnya. *ira

BAGIKAN