Bank BUMN Diminta Turunkan Suku Bunga

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 November 2020 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) –Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 November 2020 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen. Terkait hal tersebut, anggota Komisi VI DPR RI, I Nyoman Parta, Senin (23/11), meminta bank-bank milik pemerintah secepatnya melakukan penyesuaian terhadap kebijakan BI tersebut.

Dengan penyesuaian oleh bank-bank BUMN, dia berharap ekonomi bisa bergerak lebih cepat. “Bank-bank milik pemerintah harus mempelopori dengan membuat kebijakan bunga murah dengan cara menurunkan suku bunga yang ada selama ini,” katanya.

Tidak hanya itu, ia pun mengimbau bank memberikan perpanjangan relaksasi bagi debiturnya  karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Restrukkturisasi kredit bank perlu diperpanjang sampai 2022. “Komisi VI akan menyampaikan ini saat RDP dengan bank-bank BUMN,” imbuhnya.

Ia pun menerangkan, terkait menurunkan suku bunga, ada beberapa hal yang bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh bank pelat merah ke depannya. Pertama, mengurangi biaya operasional yang tinggi dari bank BUMN karena bank-bank BUMN selama ini relatif lebih boros jika dibandingkan dengan bank swasta lainnya. Dengan efisiensi biaya operasional maka suku bunga bisa diturunkan.

Kedua, bank-bank BUMN mesti mengurangi pengendapan dana di bank. Hal yang paling penting dan harus dimulai dengan menginstruksikan BUMN dan lembaga keuangan milik pemerintah untuk menyalurkan dananya ke kegiatan ekonomi produktif sepreti UMKM dan super ultra mikro. “Jangan melakukan usaha duit cari duit, itu tidak membuat ekonomi bergerak,” sindir politikus PDI-P itu.

Ketiga, kalau biaya operasionalnya sudah efisien maka NIM bisa ditekan dan bunga bisa diturunkan. Efisiensi tersebut, menurutnya, dapat dilakukan dengan menekan biaya operasional. Selain itu, penggunaan teknologi untuk merespons kebutuhan pembukaan jaringan yang luas dapat menurunkan biaya operasional.

Itu semuanya akhirnya dapat menurunkan suku bunga kredit. Ia pun mengingatkan BUMN itu adalah agen pembangunan. Jadi bank-bank BUMN jangan terlalu banyak cari profit.

“Minimal jalan dengan operasional saja sehingga suku bunga bisa turun, dan efeknya pasti investasi akan lebih banyak dan masif, dunia industri bisa jalan dan ekonomi bergerak. Tenaga kerja bisa tumbuh dan negara dengan sendirinya dapat pajak,” ucapnya. *dik

BAGIKAN