Bangun Desa Wisata Ekologis tanpa Sampah Plastik 

Desa Nyambu di Kabupaten Tabanan memiliki potensi wisata ekologis dan historis karena mempunyai kekayaan alam persawahan dan mata air yang berlimpah,

DISKUSI - Corporate Relations Director Diageo Indonesia, Dendy Borman didampingi Ester Margaretha dan Tiara Permadi melihat diskusi kelompok yang membahas upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai.

Tabanan (bisnisbali.com) –Desa Nyambu di Kabupaten Tabanan memiliki potensi wisata ekologis dan historis karena mempunyai kekayaan alam persawahan dan mata air yang berlimpah, sekaligus memiliki kontak budaya dan sejarah yang panjang sejak zaman Bali Kuno (sekitar abad ke-8 sampai abad ke-13), zaman pengaruh Majapahit (abad ke-14), hingga saat ini.

Melihat potensi tersebut, Diageo Indonesia, yakni pemilik dan pengelola pabrik minuman beralkohol merek internasional yang berlokasi di desa setempat secara aktif mendorong upaya-upaya yang dapat meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengelola usaha pariwisata dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Upaya ini dilakukan melalui pengenalan potensi desa, kekayaan alam, potensi budaya dan seni yang bisa dikelola oleh masyarakat desa setempat dan memberi manfaat secara ekonomi serta mendukung pertumbuhan sektor pariwisata.

Salah satu wujud kepedulian yang diterapkan adalah menggelar lokakarya yang mengangkat pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Lokakarya ini diadakan bekerja sama dengan “Saraswati”, perusahaan yang berfokus pada inovasi pembangunan serta Villa Dukuh, dan dihadiri oleh warga Desa Nyambu yang sejak April 2016 telah aktif mendorong program desa wisata ekologis.
Corporate Relations Director Diageo Indonesia, Dendy Borman mengatakan pihaknya terus berpartisipasi aktif dalam menghadirkan program-program yang memberikan manfaat positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. “Bersama warga desa dan para mitra, kami ingin meningkatkan pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada kepedulian lingkungan hidup. Melalui lokakarya ini, kami memfasilitasi warga di sini untuk merencanakan program yang dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sekaligus menjadikan Desa Nyambu sebagai pilot project desa wisata ekologis yang bebas plastik sekali pakai. Nantinya diharapkan dapat mendorong program yang sama di desa atau tempat lainnya,” kata Dendy.
Lokakarya Inisiatif Bebas Plastik Nyambu kali ini melibatkan beberapa lembaga maupun usaha sosial yang bergerak di lingkungan, di antaranya Yayasan Wisnu, Avani Eco, ecoBali Recycling, Kopernik, Mongabay dan PPLH Bali. Para mitra gabungan memberikan pelatihan kepada 30 orang perwakilan dari 6 Banjar yang berada di Desa Nyambu serta 10 perwakilan pemiliki usaha warung, vila dan guest house ecotourism.

Perwakilan “Saraswati”, Ester Margaretha sekaligus selaku koordinator proyek inisiatif bebas plastik, mengatakan setiap peserta yang telah dikelompokkan diajak untuk mengeksplorasi tantangan terbesar dalam mengurangi sampah plastik serta menggali ide untuk mengurangi sampah plastik serta manajemen sampah di rumah maupun di desa.

“Pertukaran pengetahuan pada kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga Nyambu dan mendorong aksi untuk mengeliminasi penggunaan plastik sekali pakai non-biodegradable atau yang tidak dapat terurai oleh proses biologi, yang sehari-hari sangat banyak digunakan masyarakat seperti kresek, botol, gelas, peralatan makan dan sedotan plastik,” sebut Ester didampingi Tiara Permadi selaku Project Manager.

Menurut Ester, sebenarnya warga Nyambu sudah punya kesadaran tapi solusinya masih pada jangka panjang, yakni pengolahan sampah plastik. “Kita berusaha untuk menyadarkan mereka bahwa pengolahan itu adalah solusi terakhir. Jadi sebelum pengolahan sebaiknya dilakukan pengurangan dulu. Kami minta mereka memetakan masalah mulai dari waktu mendapat sampah plastik sekali pakai, lalu menentukan tantangan-tantangan mengapa susah mengurangi kebiasaan memakai plastik sekali pakai. Jadi yang terpenting adalah langkah pengurangan sejak awal,” paparnya. *dar

BAGIKAN