Bangkitkan Wirausaha Mandiri Solusi Tekan Kemiskinan

Dampak penurunan pertumbuhan ekonomi alurnya akan berpengaruh terhadap pengangguran dan kemiskinan.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dampak penurunan pertumbuhan ekonomi alurnya akan berpengaruh terhadap pengangguran dan kemiskinan. Untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan salah satunya menumbuhkan wirausaha mandiri sehingga perekonomian akan menggeliat.
“Selain tentunya pandemi covid-19 ini bisa dihentikan,” kata Sekretaris Program Pascasarjana Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si. di Renon, Senin (20/7).
Seperti diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) Bali merilis penduduk miskin di Bali pada Maret 2020 tercatat 3,78 persen, naik 0,17 persen dibandingkan dengan posisi September 2019. Jumlah penduduk miskin di Bali pada Maret 2020 tercatat sekitar 165,19 ribu orang. Bertambah sekitar 8,3 ribu orang dibandingkan jumlah penduduk miskin pada September 2019 yang tercatat sekitar 156,91 ribu orang.

Terkait hal itu Suyatna Yasa mengatakan pertumbuhan ekonomi negatif karena konsumsi barang dan jasa mengalami penurunan tahun sebelumnya. Dampaknya pastinya pengangguran. Faktor-faktor produksi banyak yang menganggur karena tidak bisa dimanfaatkan dalam sektor produksi akibat permintaan berkurang.
Menteri Keuangan bahkan memproyeksikan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi akan mengalami kontraksi -3, 8 persen. “Angka yang cukup tinggi,” ujarnya.
Di Bali pada triwulan I menjukkan penurunanan ekonomi -1,14 persen karena seketor pariwisata yang amblas. Pada triwulan I, penurunan wisatawan mencapai -21,82 persen. Satu sisi, Bali 70 persen kran pariwisata untuk menopang perekonomian sehingga terpengaruh terhadap semua sektor.
“Kondisi ini juga sama ditingkat makro nasional maupun daerah mengalami kontraksi,” terangnya.

Ia pun melihat pengangguran menyebabkan daya beli masyarakat makin menurun, daya beli menurun maka kemiskinan akan makin meningkat. Kendati demikian ia menilai kemiskinan baru akan terlihat setelah triwulan II karena banyak mulai pengangguran akibat PHK.
“Triwulan III baru kelihatan jelas kemiskinan. Sebab, tidak bisa segera setelah orang PHK langsung miskin pasti ada jeda waktu ketika tidak bisa lagi menopang kebutuhan hidupnya,” jelasnya.

Harapannya pada September 2020, pandemi ini bisa berkurang, walaupun puncaknya ada yang memperkirakan Juli-Agustus. Oleh karenanya untuk menekan kemiskinan, Suyatna Yasa menilai bagaimana segera menyetop covid dan jangan sampai berkesinambungan terlalu lama karena kondisi ini yang berbahaya sekali mengingat kemampuan keuangan negara akan terbatas. Belum lagi, kontraksi tekanan terjadi di semua sektor ekonomi pada triwulan II yang sangat besar sekali terjadi di semua sektor. Terjadinya penurunan penerimaan negara dari pajak 10,8 persen, PPH migas 76,6 persen akibat penuruann minyak dunia. Sama halnya PPH nonmigas turun 10,4 persen dan PPN turun 8 persen.
Termasuk di dalamnya UMKM yang mengalami tekanan serius selama pandemi. “PPH final UMKM itu turun 34, 95 persen. Ekspor dan impor juga turun, terutama impor bahan baku dan barang modal yang ini sangat berperan meningkatkan sektor produksi,” ucapnya.

Kondisi itulah, kata dia, tidak heran terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk Bali. Pariwisata dunia terpengaruh akan lama karena sebelum covid belum berakhir maka orang orang akan was-was berpergian ke luar negeri, selain tugas atau kegiatan tidak bisa ditunda.
Untuk itu, ia menegaskan, kunci pertama memutus covid dengan ikut peran serta masyarakat dengn meningkatkan disiplin, mematuhi protokol pencegahan dan penanggulan covid. Sebab survai menunjukkan kepatuhan masyarakat kabupaten di luar Bali 70 persen tidak mengikuti aturan covid.

Kedua, bagaimaan konsusmi rumah tangga (RT) ditingkatkan. Sektor konsumsi RT terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 60 persen sehingga dari sektor ini harus memulainya. Dengan meningkat konsumsi RT maka otomatis pertumbuhan ekonomi mulai bergerak. Sama kondisi saat mengalami krisis ekonomi 1997-1998. “Ketika kita mulai recovery atau pemulihan dimuali dari konsumsi RT. Meskipun pertumbuhan kecil karena tidak didukung investasi, paling tidak perekonomian mulai bergerak meningkat,” imbuhnya.

Selain itu perlu diperhatikan tentang stimulus UMKM skala kecil, restoran, perhotelan dan ikutannya. Itu sangat penting terutama bagi UMKM. UMKM merupakan usahanya yang jumlahnya dominan di Indonesia yaitu 98 persen usaha di Indonesia dari UMKM.
Kemudian bantuan sosial diharapkan tetap terus dilakukan terutama bagi kelompok-kelompok yang rentan miskin sekali mengingat ada kelompok menegah ke atas dan marjinal. Marjinal itu potensinya 115 juta orang di Indonesia.
“Ketika banyak orang di-PHK maka di sini yang sebelumnya abu-abu menjadi miskin. Kelompok inilah yang berbahaya sekali sehingga inilah yang harus dibantu dengan jaring bantuan sosial dan kesehatan,” tegasnya.

Selanjutnya ada susbidi bunga untuk usaha mikro kecil dengan bunga sangat ringan. Termasuk, program padat karya sehingga pengangguran memiliki pekerjaan dan pendapatan. Harapannya permintaan akan meningkat, pertumbuhan konsumsi juga akan makin meningkat yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi bergerak positif.
Terpenting yaitu kewirausahaan perlu mulai digalakkan dengan berbasis kearifan lokal. Masyarakat Bali harus dibiasakan memiliki jiwa, semangat dan kemampuan kemandirian. “Usaha mandiri yang bersifat mandiri dan memiliki kearipan lokal,” jelasnya.

Ini yang sangat penting, ungkapnya, pengalaman covid menunjukan mulai bangkitnya kemandirian masyarakat. “Dulu masyarakat malu jualan, sekarang banyak mulai berjualan karena keterpaksaan. Ke depannya ini harus didorong bukan karena keterpaksaan saja namun saat kondisi normal pun dibiasakan seperti itu sehingga pertumbuhan produk makin meningkat,” tegasnya.
Di sinilah peran pemerintah harus hadir. Pemerintah wajib asih membantu ketika perekonomian mengalami kontraksi. *dik

BAGIKAN