Bangkitkan Semangat Literasi

MINAT generasi muda di Bali dalam dunia literasi cukup rendah. Berbagai cara pun dilakukan untuk membangkitkan literasi.

MINAT generasi muda di Bali dalam dunia literasi cukup rendah. Berbagai cara pun dilakukan untuk membangkitkan literasi. Seperti yang dilakukan anak muda kelahiran Singaraja, Teddy Chrisprimanata Putra, yang membuat sebuah tempat bertukar pikiran dan belajar untuk anak muda di Bali.

Saat ditemui tim Bisnis Bali News, Rabu (17/2) kemarin, Teddy menyampaikan, sejak tahun 2016 ia menggandrungi dunia literasi. Mulai dari membaca, lalu masuk ke dunia tulis menulis. Ia juga berkenalan dengan budaya diskusi. “Karena itu, saya punya pikiran kenapa nggak passion ini kita jadikan semacam salah satu jalan untuk mendapatkan penghasilan,” ujarnya.

Teddy lantas membuat tempat belajar yang diberi nama Etalase Pengetahuan Bali (EPB). Setelah didalami, ternyata banyak manfaat yang didapatkannya, yaitu memantik semangat literasi di kalangan anak muda Bali dan sebagai tempat mendalami dunia literasi.

“Saya memulai menjual buku-buku ini sekitar tahun 2018 lalu. Tidak mudah mengenalkan dunia literasi kepada anak muda zaman sekarang. Apalagi anak muda sekarang ini lebih suka ke audio-visual daripada membaca teks. Apalagi di Bali tentu sangat berbeda dengan di Jawa. Iklim untuk literasinya di Jawa lebih maju ketimbang di Bali. Tetapi itulah tantangan yang cukup berat, bagaimana kita bisa membuat buku-buku ini bisa diminati oleh anak-anak muda.

Mengenai respons masyarakat terhadap EPB, dia menyebut cukup baik. Bagi yang punya minat literasi, EPB menjadi wadah yang sangat bermanfaat. “Kalau respons dari masyarakat luas ini tentu perlu kerja keras lagi. Harus lebih banyak ide-ide kreatif. Jadi saya harus membuat konten-konten kreatif di account Instagram, Facebook (FB) atau media sosial lainnya,” katanya.

Untuk segmentasi, selama dua tahun berjalan, pengunjung usia 18 sampai 30 tahun yang lebih banyak membeli buku. Dia pun mengakui, pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap penjualan buku. Bahkan di akhir tahun 2020 penjualan anjlok.

“Tapi bagi saya itu bukan masalah. Saya tidak boleh menyerah dengan keadaan. Saya harus tetap berjalan maju karena ini adalah passion saya dari awal, sehingga saya tidak pernah merasakan beban untuk menjalankan usaha saya ini. Tetapi kalau diambil hikmahnya, saya selalu terus dituntut untuk berkreasi lagi, lebih kreatif untuk menarik perhatian masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, pihaknya ingin menjadikan EPB sebagai pemantik semangat literasi di kalangan anak muda. Selain itu, menjadi media mendalami dunia literasi dan membangun ekosistem literasi di Bali. *suk

BAGIKAN