Bangkitkan Genjek Kolaborasi Genggong, Gasebu Ajang Gali Potensi Seni

eni musik genggong  dikolaborasikan dengan seni genjek ditampilkan pada pembukaan Gelar Seni Budaya (Gasebu) Kecamatan Sukasada 2019.

Penampilan Genjek yang dikolaborasikan dengan Genggong pada Gasebu 2019. 

Singaraja (bisnisbali.com) – Seni musik genggong  dikolaborasikan dengan seni genjek ditampilkan pada pembukaan Gelar Seni Budaya (Gasebu) Kecamatan Sukasada 2019. Setelah sekian lama tidak terlihat menghiasi pementasan seni di Buleleng, seni musik genggong kembali dibangkitkan yang dibawakan oleh sanggar seni dari Desa Selat, Kecamatan Sukasada.

Pembina seni genjek kolaborasi genggong asal Desa Selat, Ketut Sarjana menjelaskan, atraksi seni tersebut merupakan suatu yang unik dan memang jarang dipentaskan. Sebelumnya seni genjek tidak pernah dikolaborasikan dengan atraksi seni lainnya. Dengan tujuan menciptakan inovasi baru dan menggali potensi seni yang terpendam, akhirnya genjek dikolaborasikan dengan seni musik genggong yang pertama kalinya dipentaskan di Buleleng.
Seni musik genggong memang dinilai hampir mengalami kepunahan, dikarenakan sebagian besar sekeha genggong merupakan orang-orang yang telah lanjut usia. “Sehingga karena faktor usia dan banyak yang sudah meninggal dunia, seni genggong sempat vakum dan kami ingin membangkitkan kembali dengan membentuk sekeha yang baru,” jelasnya.
Peserta genjek kolaborasi genggong, masih kata Sarjana, terdiri dari 30 orang, dan telah terbentuk sejak setahun yang lalu. Selama proses latihan, memang terdapat beberapa hambatan yang tidak bisa dipungkiri, tetapi karna tekad dan motivasi untuk membangkitkan seni yang terpendam, ia akhirnya berhasil mengkolaborasikan genjek dan genggong ini.
Atraksi seni ini menurutnya bukan termasuk seni yang sakral, karena pementasan seni yang tergolong sakral hanya dipentaskan pada upacara agama tertentu, tetapi genggong ini dapat dipentaskan di mana saja tanpa diawali dengan ritual khusus. “Tiap latihan atau menjelang pentas kami hanya  mepiuning atau memohon kelancaran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan kami harap seluruh sekeha genggong yang ada di desa lain selain desa kami agar termotivasi untuk membangkitkan kembali,” pungkasnya.
Sementara itu Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, usai membuka secara resmi Gasebu 2019 mengatakan, acara tahunan yang pertama kalinya digelar di aera RTH Bung Karno ini merupakan ajang untuk mempromosikan potensi daerah, menggairahkan perekonomian, serta menghibur masyarakat Sukasada.
Potensi seni di Kecamatan Sukasada dinilai masih banyak yang terpendam, seperti atraksi seni genggong yang selama ini jarang terlihat menghiasi pentas seni di Buleleng, kembali ditampilkan pada Gasebu kali ini yang dikolaborasikan dengan genjek. “Nah, pada festival seperti inilah kita memberikan ruang pada seniman-seniman untuk menggali potensi seni yang beberapa di antaranya masih terpendam dan perlu dikembangkan lagi,” ujarnya.
Gasebu 2019 digelar selama empat hari pada 13-16 November 2019 ini mengusung tema “Jagra Adikara” yang bermakna kesadaran untuk melestarikan warisan seni budaya nenek moyang. *ira

BAGIKAN