Bali Impor Mesin dan Peralatan Listrik dari Tiongkok Naik Hingga Ratusan Persen

Maret 2020 BPS Bali mencatat ternyata ada sejumlah komoditi diimpor oleh Bali yang lonjakannya hingga ratusan persen dibandingkan bulan sebelumnya tahun yang sama.

Denpasar (bisnisbali.com) –Maret 2020 BPS Bali mencatat ternyata ada sejumlah komoditi diimpor oleh Bali yang lonjakannya hingga ratusan persen dibandingkan bulan sebelumnya tahun yang sama. Komoditas tersebut adalah mesin dan peralatan listri yang diimpor dari Tiongkok, sekaligus memberi andil cukup besar pada nilai impor pulau dewata pada peeriode tersebut.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Selasa (5/5) mengungkapkan, nilai impor barang Bali dari luar negeri tercatat 13.461.649 dolar AS pada Maret 2020. Kondisi tersebut naik 13,25 persen jika dibandingkan catatan Februari 2020 (m -t-m) yang tercatat 11.886.232 dolar AS. Jika dibandingkan dengan Maret 2019 (y-o-y), nilai impor Bali justru tercatat turun -39,88 persen.

Jelas Adi, secara (m-t-m) dari sepuluh negara utama asal impor Maret 2020, impor dari tujuh negara tercatat naik dengan peningkatan tertinggi hingga ratusan persen tercatat pada impor asal negara Tiongkok (326,21 persen) yang disebabkan oleh naiknya impor produk mesin dan peralatan listrik, serta produk barang-barang dari kulit.

“Secara year on year, dari 10 negara utama asal impor utama, enam negara tercatat menurun, dengan penurunan terdalam tercatat pada impor asal Hongkong (-61,46 persen),” tuturnya.

Paparnya, komoditas mesin dan peralatan listrik tercatat sebagai komoditas impor terbesar Provinsi Bali dari luar negeri pada Maret 2020 dengan share 23,15 persen dari total impor. Katanya, pada Maret 2020 nilai impor mesin dan peralatan listrik ini mencapai 3.116.441 dolar AS, naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 1.747.101 dolar AS.

Sementara itu tambahnya, secara umum dari sepuluh komoditas utama impor, delapan di antaranya meningkat dibandingkan Februari 2020 (m-t-m) dengan peningkatan tertinggi hingga ribuan persen (2.191,43 persen) tercatat pada komoditas tembakau berupa cerutu, cheroot, cerutu kecil dan sigaret, dari tembakau atau pengganti tembakau, dan utamanya diimpor dari Belanda. KPPBC Tipe Madya Pabean Denpasar menyatakan bahwa terdapat lonjakan kegiatan impor rokok yang dilakukan oleh salah satu perusahaan yang biasa melakukan impor rokok di Provinsi Bali.

“Jika dibandingkan dengan Maret 2019 (y-o-y), dari sepuluh komoditas utama impor, enam di antaranya menurun dengan penurunan terdalam tercatat pada impor produk lonceng, arloji, dan bagiannya sedalam -84,62 persen,” tegasnya.*man

BAGIKAN