Bali Era Baru Jadi Angin Segar bagi Pelaku Usaha

Bali era baru atau new normal yang tahapannya sudah dimulai, Jumat (9/7) menjadi angin segar bagi para pelaku usaha di Pulau Dewata karena berpotensi menggeliatkan ekonomi di tengah pandemi covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bali era baru atau new normal yang tahapannya sudah dimulai, Jumat (9/7) menjadi angin segar bagi para pelaku usaha di Pulau Dewata karena berpotensi menggeliatkan ekonomi di tengah pandemi covid-19. Seiring dengan itu, arah pertumbuhan ekonomi Bali yang sebelumnya tumbuh minus, akan sangat dimungkinkan berbalik arah atau tumbuh ke arah positif seiring dibukanya kunjungan wisman pada 11 September 2020 mendatang.

“Tahapan Bali era baru ini jadi angin segar bagi pelaku usaha, sehingga berbagai sektor pelaku usaha sudah bersiap diri ketika dimulainya tahapan era baru ini,” tutur Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, Made Ariandi, Senin (13/7).

Bercermin dari itu pula, terangnya, Kadin Bali sangat menyambut baik dan mendukung kebijakan diambil oleh Gubernur Bali dengan tahapan Bali era baru yang sudah dimulai. Kini tinggal menyadarkan masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol covid-19. Di sisi lain imbuhnya, dari sisi ketahanan pangan Bali juga harus dipersiapkan sebagai pendukung geliat pertumbuhan ekonomi nantinya.

Bercermin dari itu, jelas Ariandi, mewujudkan ketahanan pangan ini salah satunya bisa dilakukan dengan membentuk terminal pangan di desa-desa atau kecamatan. Nantinya, terminal pangan ini tidak hanya untuk edukasi di bidang pertanian saja, namun katanya juga berfungsi sebagai usaha padat karya yang berbasiskan pertanian lokal sekaligus guna merangkul regenerasi SDM di bidang pertanian, sehingga Bali mampu menjadi eksportir di bidang tersebut selain juga ekspor pada komoditi industri kreatif.

“Di samping itu, proyek nasional yang sudah direncanakan di 2020 harus segera dieksekusi, sehingga di sana ada perputaran uang guna menggeliatkan ekonomi,” ujarnya.

Semetara itu, ketika pelaku usaha ini membuka kembali oprasional di tengah pandemi covid-19 juga bukan perkara mudah, mengingat selain protokol covid-19 yang harus dipersiapkan, ada sejumlah upaya lain yang juga harus dipersiapankan dan itu menyedot modal kerja cukup besar. Bercermin dari itu harapannya, enam bulan pertama harus didukung ketika dibukannya wisata Bali untuk kunjungan wisman nanti, harus dibarengi pula dengan kebijakan pemerintah pusat melalui lembaga keuangan dalam bentuk relaksasi. Artinya, bank milik pemerintah maupun milik swasta ini diberikan stimulus oleh pemerintah guna bisa mendukung sektor usaha. Itu sekaligus dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif di tengah pandemi dan dilakukan evaluasi kembali pada periode berikutnya.

Jika itu berjalan dengan baik, laju petumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I yang tumbuh negatif  dan triwulan II diperkirakan masih akan negatif, maka triwulan III dengan dibukanya kunjungan wisatawan nusantara atau domestik dan triwulan IV nanti seiring dengan dibukanya kunjungan wisman ada peluang pertumbuhan ekonomi Bali ini untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Katanya, itu dengan catatan ketergantungan luar terhadap pariwisata hingga hasil handicrafts di Pulau Dewata ini besar seperti potensi yang dimiliki oleh Bali selama ini. Selain itu, pastikan juga cadangan pangan yang ada di Bali ini tercukupi dengan baik sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi pulau dewata nantinya.

“Sebenarnya ekonomi Bali sangat fleksibel asalkan ada permintaan, maka ekonomi Bali bisa mengubah dalam periode 2-3 bulan. Cuma memang tidak bisa gegabah, perlu adanya edukasi dari stekholder dan pelaku usaha yang ada,” tegasnya. *man

BAGIKAN