Bali belum bisa Pulih dalam Waktu Dekat?

Andalan perekonomian Bali yaitu sektor pariwisata terpapar sangat parah akibat pandemic covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) –Andalan perekonomian Bali yaitu sektor pariwisata terpapar sangat parah akibat pandemic covid-19. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi di daerah ini tampaknya belum bisa pulih dalam waktu dekat. “Hidupnya pariwisata dari kerumunan orang, sementara adanya covid-19 sangat rentan dengan kerumunan,” kata Praktisi ekonomi dari STIE BIITM Sahid, Dr. Luh Kadek Budi Martini, S.E., M.M. di Sanur, Senin (22/6).

Selain itu, pemerintah belum mengizinkan sektor wisata di Pulau Dewata dibuka. Jelas dari kondisi tersebut akan membuat keterpurukan ekonomi Bali. Tidak heran bila triwulan II 2020 ini pertumbumbuhan perekonomian bisa jadi lebih buruk.
“Kemungkinan pertumbuhannya minus lebih 2 persen yang akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan. Kondisi ini perlu diwaspadai pemerintah,” katanya.
Dari kondisi ini, pemerintah Bali diharapkan harus mengambil kebijakan agar sektor UMKM bisa tetap beroperasional (hidup), paling tidak untuk konsumsi masyarakat Bali sendiri. Menurutnya jika ekspor belum bisa, maka hal itu bisa diandalkan.
“Masyarakat Bali (terutama yang kehilangan pekerjaan), harus kreatif. Juga kalau bisa, sektor pertanian dilirik lagi, meski tidak di on farm, tapi off farm (pengolahan dan pendistribusiannya),” tegasnya.

Sebelumnya ia menyampaikan masyarakat pun diharapkan dapat memasuki fase kenormalan baru ini dan akibatnya akan terjadi perubahan perilaku di segala sektor.
New normal tidaklah “normal” seperti di masa lalu sebelum covid -9 mewabah. New normal akan memerlukan banyak perubahan, baik perubahan sosial, ekonomi, budaya sampai ke perubahan perilaku individu.
Bagi masyarakat Bali yang di masa lalu bergelimang dengan gemerincing dolar di perputaran ekonominya, pasti tidak akan bisa sejaya dulu lagi. New normal akan mengakibatkan jumlah orang yang berkunjung menjadi berkurang.

“Kita tahu, dunia pariwisata hidupnya dari kerumunan orang, artinya seluruh aktivitasnya lebih banyak bersifat kerumunan. Karenanya, wabah covid tidak memperbolehkan kerumunan, tentu akan berdampak sekali bagi industri ini,” katanya.
Misalnya, saat new normal diberlakukan, semua serba terbatas. Pesawat hanya boleh isinya setengah, bis pun sama isinya setengah. Di restoran orang-orang pada duduk berjauhan dan lain-lainnya. Tentu semua itu jelas akan berdampak pada sisi penerimaan para pelaku pariwisata Bali.*dik

BAGIKAN