Babi Mati, Kewajiban Bayar Kredit belum Terganggu

Kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan yang telah menembus angka 537 ekor, belum berdampak pada terjadinya gagal bayar kredit oleh sejumlah debitur (kalangan peternak) kepada kalangan perbankan.

Sejumlah babi yang matia dikubur dalam satu lubang.

Tabanan (bisnisbali.com) –Kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan yang telah menembus angka 537 ekor, belum berdampak pada terjadinya gagal bayar kredit oleh sejumlah debitur (kalangan peternak) kepada kalangan perbankan. Meski begitu, saat ini kalangan perbankan mulai selektif menerima pengajuan kredit baru dari kalangan peternak, khususnya babi.

“Secara umum, selain sektor usaha lainnya, Bank BPD Bali Cabang Tabanan juga menyalurkan kredit ke kalangan usaha peternakan. Jumlahnya, per 31 Desember 2019 mencapai Rp 284.947.650.000,” tutur Kepala Bank BPD Bali Cabang Tabanan, I Gusti Ngurah Supardi, S.E., M.M., di Tabanan, Kamis (6/2) kemarin.

Terangnya, penyaluran kredit perbankan pada sektor peternakan ini termasuk juga menyasar pada usaha peternakan babi. Imbuhnya, saat ini terkait maraknya kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan, pengembalian kredit dari debitur (pelaku usaha peternak babi) masih aman atau belum sampai terjadi gagal bayar, mengingat kejadian tersebut baru terjadi sebulan terakhir.

“Hingga saat ini, pengembalian kredit dari kalangan debitur (peternak babi) masih lancar. Mungkin nanti setelah dua atau tiga bulan berikutnya baru akan terlihat dampaknya pada pengembalian kredit,” ujarnya.

Jelas Supardi, meski belum berdampak pada gagal bayar kredit, saat ini pihaknya tidak memungkiri melakukan penundaan untuk menerima pengajuan kredit baru khususnya pada sektor usaha peternakan babi. Katanya, penundaan penerimaan pengajuan kredit ini dilakukan hanya sifatnya sementara waktu. Sebab nanti, jika perkembangan di lapangan prospek usaha di sektor peternakan babi ini kembali membaik, di antaranya dicerminkan dengan membaiknya harga babi di pasaran dan pemerintah berhasil menangani kematian babi secara mendadak baru kemudian pengajuan kredit dari debitur usaha peternakan babi ini kembali normal.

“Di sisi lain, saat ini calon debitur juga masih berpikir dua kali untuk mengajukan kredit untuk pengembangan usaha peternakan babi, mengingat masih dibayangi ancaman kematian babi secara mendadak,” tandasnya. *man

BAGIKAN