Antisipasi  Serangan Virus, Distan Denpasar Gelar Sosialisasi ke Peternak

Dalam upaya mengantisipasi serangan virus yang mematikan ternak babi, Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar menggelar sosialisasi kepada peternak pada Jumat (31/1).

SOSIALISASI - Dinas Pertanian Kota Denpasar saat mengadakan sosialisasi, Jumat (31/1) kepada kelompok peternak di Kota Denpasar dalam upaya mengantisipasi serangan virus yang mematikan babi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dalam upaya mengantisipasi serangan virus yang mematikan ternak babi, Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar menggelar sosialisasi kepada peternak pada Jumat (31/1). Tiga kelompok peternak kurang lebih terdiri dari 50 anggota mengikuti sosialisasi guna mencegah terjadinya kematian ternak secara mendadak yang sebelumnya sempat terjadi di kabupaten lainnya.

Sosialisasi digelar di area kandang Kelompok Ternak Sebe Sari, yang menghadirkan perwakilan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Provinsi Bali IKG Nata Kesuma, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewa Dinas Peternakan Kota Denpasar Made Ngurah Sugiri, serta Bendesa Adat Sesetan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar I Gede Ambara Putra didampingi Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Made Ngurah Sugiri mengatakan, sosialisasi dilakukan guna memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan kandang serta menjaga kesehatan ternaknya. Hal tersebut bertujuan agar ternak tidak mudah diserang oleh virus termasuk african swine fever (ASF) yang ditakuti terjadi.

Ambara mengatakan, meski belum terungkap jika kasus kematian babi mati secara mendadak yang terjadi di beberapa kabupaten di Bali adalah serangan virus ASF, namun pihaknya tetap melakukan sosialisasi sebagai upaya antisipasi. Demikian juga dikatakannya, di Kota Denpasar sendiri, kasus kematian babi secara mendadak belum ada. Beberapa kasus kematian babi yang terjadi belakangan ini dikatakannya tidak terjadi secara mendadak, yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti terjangkit kolera, ataupun perubahan cuaca. “Kematian babi di Denpasar ada, namun tidak mendadak. Kebanyakan karena memang sakit. Itupun jumlahnya sedikit,” ujarnya.

Ngurah Sugiri menambahkan, beberapa yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, seperti bio security kandang dengan menyemprotkan desinfektan, menjaga kebersihan kandang, menghindari kontak dengan ternak lain dengan cara menjaga kebersihan alat tangkap (dekontaminasi), hingga mengatur tata cara penambahan bibit (depopulasi). “Jika ada bibit baru dan ternak sebelumnya telah dijual, maka kandang harus dikeringankan selama 2 minggu sebelum memasukkan bibit baru ke kandang yang sama,” katanya.

Demikian juga dikatakannya, hingga saat ini vaksin ASF belum ditemukan termasuk virus yang menyerang dan membuat babi mati mendadak di Bali belum dinyatakan sebagai AF. Namun, untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya serangan virus pada ternak khususnya babi. Dikatakannya jika ternak sehat dan kandang bersih, maka ternak tidak akan mampu diserang oleh virus. *adv

BAGIKAN