Antisipasi Anjloknya Harga, Petani Disarankan Tak Berbarengan Tanam Satu Jenis Komoditas

Para petani sayur di Kabupaten Tabanan diharapkan tak berbarengan menanam satu jenis komoditas di tengah kondisi minimnya serapan pasar saat pandemi Covid-19.

Tabanan (bisnisbali.com) –Para petani sayur di Kabupaten Tabanan diharapkan tak berbarengan menanam satu jenis komoditas di tengah kondisi minimnya serapan pasar saat pandemi Covid-19. Hal tersebut guna mengantisipasi anjloknya harga jual hasil pertanian  yang riskan terjadi sekarang ini.

“Selama ini, dari pantauan di lapangan terkait produk pertanian sebagian besar mengalami penurunan harga saat ini. Salah satunya adalah tomat yang harganya sampai Rp 500 per kg di petani, sehingga sejumlah petani tomat membiarkan tanaman mereka tidak dipanen saat ini,” ujar Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan, I Made Budana, Rabu (9/9) kemarin.

Selain tomat, hal sama juga terjadi pada jenis tanaman sayur lainnya yang fluktuatif dan cenderung harganya anjlok saat ini. Contohnya, satu bulan lalu untuk tanaman sayur seledri sempat turun menyentuh Rp 1.000 per kg, namun kini harganya sudah kembali naik ke Rp 6.000 per kg. Fluktuasi harga sayur ini diakibatkan oleh kendala pemasaran yakni, menurunnya serapan pasar di tengah belum optimalnya operasional kalangan hotel dan restoran dampak dari pandemi Covid-19. “Kondisi tersebut diperparah lagi dengan menurunnya daya beli konsumen, sehingga riskan membuat harga hasil pertanian ini anjlok di pasaran saat ini,” ujarnya.

Khusus terkait harga tomat yang anjlok ini, pihaknya sedang mendata di lapangan menyangkut jumlah dan produksi yang ada. Meski begitu dia memprediksi jumlah petani tomat di Tabanan tidak banyak, kemungkinan karena faktor cuaca yang mendukung kemudian itu membuat produksi tomat ini meningkat sehingga harganya anjlok saat ini.

Bercermin dari itu, dia menyarankan petani di Tabanan hendaknya melihat situasi dan kondisi sebelum akan mengembangkan tanaman. Artinya, petani jangan bersamaan menanam satu jenis komoditas, sehingga harga hasil produksi atau pada saat panen nanti bisa dikendalikan.

“Selama ini yang terjadi adalah petani ini cenderung ramai-ramai mengembangkan satu komoditas ketika harganya di pasaran naik saat itu. Padahal kondisi tersebut justru malah memicu anjloknya harga karena produksi yang melimpah pada panen berikutnya,” tandasnya.

Selain itu, di awal pandemi Covid-19 pihaknya juga sudah mengimbau ke petani hortikultura agar mengalihkan jenis budi daya yang sebelumnya terfokus menyasar kalangan hotel dan restoran, agar beralih berbudi daya tanaman dengan orientasi menyasar pangsa pasar lokal. Selain itu, petani diharapkan menyesuaikan luasan budi daya dengan kondisi jumlah permintaan yang ada saat ini.

“Paling tidak produksi yang ada bisa memenuhi kebutuhan sayur di Tabanan. Selain itu, kami maksudkan agar antara biaya produksi yang dikeluarkan dengan pendapatan diterima petani saat panen bisa sesuai harapan,” tegasnya.*man

BAGIKAN