Angkutan Pariwisata Stagnan, Antarkota Naik Tipis

Di tengah pandemi Covid-19, jasa transportasi darat di Bali turut terdampak, terlebih pariwisata yang belum ada tanda-tanda pergerakan.

TRANSPORTASI - Seorang warga tengah memanfaatkan jasa transportasi antarkota.

Denpasar (bisnisbali.com) Di tengah pandemi Covid-19, jasa transportasi darat di Bali turut terdampak, terlebih pariwisata yang belum ada tanda-tanda pergerakan. Namun, untuk angkutan antarkota dalam provinsi, dilihat dari tingkat isian sudah mulai meningkat pada angka 17 persen. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DPD Bali I Ketut Edy Dharma Putra, Kamis (29/10) kemarin.

Dia menuturkan, dilihat dari layanan Buy The Service (BTS) Trans Metro Dewata yang merupakan fasilitas transportasi dari pemerintah, tingkat isian sudah mengalami peningkatan menjadi 17 persen. Sebelumnya, tingkat isian jasa transportasi antarkota dalam provinsi ini hanya 15 persen. “Ini menunjukkan sudah ada peningkatan,” jelasnya.

Namun, untuk angkutan antar kota antarprovinsi (AKAP) masih lemah. Masih rata-rata 50 persen. Demikian pula pariwisata yang dikatakannya masih stagnan.

Edy Dharma Putra menjelaskan, jasa transportasi pariwisata di Bali sangat bergantung pada wisatawan mancanegara. Dengan belum adanya kunjungan wisatawan dari luar negari, membuat jasa angkutan pariwisata di Bali belum bisa bergerak.

Meski pemerintah sudah berupaya untuk menggeliatkan wisatawan lokal, itu belum optimal. Sementara dilihat dari trafik perjalanan, kata dia, belum ada pergerakan yang signifikan. “Wisman belum ada masuk sementara untuk wisatawan nusantara tidak memiliki pengaruh besar, karena selama ini jasa tranportasi pariwisata di Bali didominasi wisman. Jadi untuk pergerakan memang belum ada,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN