Ancaman PBK Mulai Mereda, Petani Kakao Kembali Bergairah

Petani kakao di Kabupaten Tabanan kembali bergairah berproduksi dengan melakukan peremajaan tanaman.

Tabanan (bisnisbali.com) –Petani kakao di Kabupaten Tabanan kembali bergairah berproduksi dengan melakukan peremajaan tanaman. Hal ini menyusul menurunnya ancaman serangan penggerek buah kakao (PBK) yang terjadi selama dua tahun terakhir.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tabanan, Dewa Budidana Susila,  mengungkapkan, kini banyak petani kakao kembali menekuni profesinya bertani dengan melakukan perawatan pada tanaman. Beberapa sentra produksi mulai melakukan peremajaan tanaman kakao, karena sebagian besar tanaman kakao sudah berumur tua (di atas 40 tahunan). Dengan begitu, perlu dilakukan peremajaan guna meningkatkan hasil atau produksi yang di dapat petani saat panen.

“Saat ini di Tabanan produksi kakao mencapai 600-an hektar yang terpusat di Selemadeg Raya dan Penebel,” tuturnya.

Jelas Budidana, salah satu sentra produksi yang mulai melakukan peremajaan tanaman kakao secara swadaya adalah di RPO kakao daerah Angkah dan Desa Lumbung Selemadeg Barat. Lahan yang diremajakan mencapai 40 hektar lebih dari total 6.000 hektar terdiri atas 107 subak abian.

Di sisi lain, paparnya, ancaman hama PBK pada kakao ini sebelumnya sempat menimbulkan trauma bagi petani kakao di Tabanan, mengingat serangan hama BPK ini terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama sejak 1995 lalu dan baru mereda sejak dua tahun terakhir. Diakuinya, serangan PBK ini membuat Tabanan tak lagi masuk menjadi kawasan sentra produksi kakao nasional.

“Kini dengan kembali bergairahnya petani kakao, kami berharap agar Tabanan kembali masuk menjadi kawasan nasional penghasil kakao,” ujarnya.

Harapan tersebut, sambungnya, seiring dengan harga kakao di pasaran yang cenderung stabil, tidak terkecuali di tengah pandemi covid-19 ini. Terangnya, kini di tengah pandemi harga kakao di pasaran berada di kisaran Rp 27.000 per kg-Rp 28.000 an per kg untuk kualitas asalan, namun pangsa pasar penjualan kakao cenderung terserap ke pasar di dalam negeri saat ini.

“Sebelum pandemi ekspor kakao terbuka luas, salah satunya ke Amerika Serikat. Namun, kini dengan kondisi covid-19 permintaan pasar ekspor jadi stagnan,” tandasnya. *man

BAGIKAN