AKAP Stabil, Angkutan Wisata Memprihatinkan  

Merebaknya vorona virus disease 2019 (covid-19) membawa dampak besar pada sektor pariwisata termasuk angkutan kepariwisataan.

Denpasar (bisnisbali.com)-Merebaknya corona virus disease 2019 (covid-19) membawa dampak besar pada sektor pariwisata termasuk angkutan kepariwisataan. Namun Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali, I Ketut Edy Dharma Putra, Kamis (19/3) mengatakan kondisi stabil masih dirasakan angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP).

“Kondisi penumpang khususnya AKAP, cukup stabil. Sekarang semua pada diliburkan, jadi mereka yang dari Jawa memilih pulang,” ungkap Edy ditemui di kantornya Jalan Pulau Kawe Denpasar.

Dikatakan, arus AKAP yang ke Jawa cukup padat, karena banyak juga pekerja seperti buruh yang proyeknya distop untuk sementara, mereka harus kembali pulang ke rumahnya. Pihaknya berharap setelah Hari Raya Nyepi, untuk penumpang dari Jawa ke Bali akan meningkat.

“Tetapi yang memprihatinkan adalah angkutan pariwisata, karena kondisi pariwisata yang stagnan ini sangat terasa dampaknya. Sampai para pengusaha mengajukan surat permohonan kepada OJK kiranya bisa melakukan penundaan  pembayaran utang,” ungkapnya.

Surat permohonan tersebut dikatakan, dilayangkan ke OJK per 12 Maret lalu. Pemerintah pusat cukup responsif terhadap keluhan para pengusaha angkutan. Namun pihaknya mengaku masih menunggu kebijakan di daerah. “Mudah-mudahan ini cepat dilakukan di daerah sehingga ada nafas lega bagi para pengusaha. Untuk membayar karyawan saja, khususnya pengusaha angkutan pariwisata sangat berat ya,” tukasnya.

Untuk itu, pihaknya mengimbau agar seluruh pengusaha angkutan melakukan sterilisasi armada yang digunakan dengan menyemprotkan disinfektan secara berkala. “Ini untuk mencegah penyebaran virus corona. Para pengusaha sangat antusias melakukan program ini, dengan harapan kondisi ini segera berlalu,” tandasnya.

Dikatakan, para pengusaha angkutan juga akan melaksanakan penyemprotan di Terminal Ubung untuk antisipasi penyebaran virus corona. Semua komponen sangat antusias melaksanakan program antisipasi ini. “Kami harap kondisi bisa segera pulih, dan pariwisata kita bisa eksis lagi. Baru tiga bulan saja sudah sangat terasa dampaknya, apalagi sampai 6 bulan seperti diprediksi,” ucapnya.

Diungkapkan, saat ini bahkan ada para pengusaha angkutan pariwisata yang ingin menjual armada. “Tetapi mau dijual ke mana, kondisi global seperti saat ini. Jadi saat ini semua fokus untuk antisipasi penyebaran saja,” pungkasnya. *pur

BAGIKAN