Agroindustri dan ”Digital Farming” Solusi Peningkatan Pertanian Bali

PEREKONOMIAN suatu daerah akan berlanjut menuju tahap yang lebih tinggi apabila memiliki fondasi yang kuat di sektor pertanian.

Sektor nonpariwisata berfungsi sebagai bumper untuk menjaga goncangan yang mengancam sektor pariwisata sehingga kinerja perekonomian dapat terjaga.Salah satu sektor nonpariwisata yang paling memiliki potensi untuk didukung adalah sektor pertanian. Apa solusi peningkatan pertanian Bali?.

PEREKONOMIAN suatu daerah akan berlanjut menuju tahap yang lebih tinggi apabila memiliki fondasi yang kuat di sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki kontribusi cukup besar yaitu 13,5 persen yang merupakan sektor kedua terbesar setelah sektor hotel dan restoran dalam perekonomian Bali. Selain itu sektor ini memilihi ketahanan yang cukup kuat terhadap tekanan permintaan dan penawaran. Hal ini terbukti bahwa sektor ini masih tetap tumbuh positif pada saat pertumbuhan ekonomi negatif. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja (19,6%) yang merupakan sektor terbanyak menyerap tenaga kerja di Bali. Sifat lapangan kerja di sektor pertanian juga fleksibel karena dapat mengirim tenaga kerja ke sektor lain di saat ada yang membutuhkan, di sisi lain dapat menyerap tenaga kerja dari sektor lain pada saat terjadinya pengangguran.

Pertanyaan kini apa yang dapat dilakukan pada sektor pertanian? . Pemerhati ekonomi dari KPw BI Bali M. Setyawan Santoso mengatakan solusinya mendukung sektor pertanian dengan sektor industri atau agroindustri.

Di lihat dari data BPS, kinerja sektor industri pengolahan selama ini lebih berkorelasi dengan kinerja sektor hotel dan restoran. Pada salah satu sektor tumbuh meningkat, maka sektor lain juga meningkat, demikian pula sebaliknya.
“Ke depan, sektor industri harus diarahkan menuju agroindustri, yaitu industri yang mengolah hasil hasil pertanian,” katanya.
Deputi Direktur KPw BI Bali ini menjelaskan agroindustri tidak selalu melakukan pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan makanan jadi, tetapi lebih luas lagi mencakup pengepakan (packaging) yang steril dan higienis sehingga produk pertanian dapat disimpan dan di kirim sesuai kebutuhan.

“Dengan agroindusri, pemasaran produk pertanian seperti buah manggis, sawo, alpulkat dan mangga dapat bertahan lebih segar dan lebih lama,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Emsan biasa ia disapa menerangkan, mendukung sektor pertanian selanjutnya dengan digitalisasi atau digital farming. Menurutnya, selama ini telah ada beberapa anak muda yang kreatif dan mengembangkan aplikasi sebagai market place untuk memasarkan produk pertanian kepada konsumen. Dengan aplikasi ini petani dapat menawarkan produknya di market place sementara konsumen lokal maupun importir dapat melakukan pemesanan.

Ke depan, kata dia, digitalisasi harus mencapai ke seluruh aspek pertanian mulai dari perolehan bibit oleh petani, pembiayaan, peminjaman tractor atau mesin pengolahan, proses pengolahan, pengepakan (packaging) hingga pemasaran.
Ia pun menyampaikan guna meningkatkan perhatian kepada sektor pertanian baik melalui dialog Dinas Pertanian secara langsung dengan petani. Juga dengan mempererat koordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertanian di pusat. Komunikasi yang aktif diperlukan agar Kementrian Pertanian memberikan perhatian lebih banyak terhadap provinsi Bali dibanding provinsi lainnya.

“Dialog ini perlu untuk menjamin Bali menerapkan bibit terbaru dan penerapan teknologi terbaru yang paling efisien dalam meningkatkan produksi pertanian,” paparnya.*dik

BAGIKAN