A.A. Made Sukawetan, Modal Sendiri

KALANGAN usaha penggilingan padi di Bali hanya mengandalkan modal sendiri  untuk membeli gabah hasil petani pada musim panen tahun ini.

KALANGAN usaha penggilingan padi di Bali hanya mengandalkan modal sendiri  untuk membeli gabah hasil petani pada musim panen tahun ini. Pembelian hasil panen tak lagi dibantu dari program Dana Penguatan Modal Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM LUEP)  yang sebelumnya menjadi instrumen Pemerintah Provinsi Bali dalam mengamankan harga gabah di tingkat petani di setiap musim panen.

“Sejak 2018 lalu program DPM LUEP telah dihentikan, sehingga sejak itu pula sejumlah usaha penggilingan padi sepenuhnya memanfaatkan dana sendiri dalam menyerap hasil panen,” tutur Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali A.A. Made Sukawetan.

Hanya bergantung dari modal sendiri tentunya kemampuan dalam menyerap produksi padi pada musim panen seperti saat ini menjadi kurang optimal. Selain itu, adanya wacana impor beras oleh pemerintah melalui Menteri Perdagangan (Mendag) menjadi alasan untuk berhati-hati dalam menyerap hasil panen. “Wacana impor beras membuat kalangan usaha penggilingan padi tidak berani maksimal dalam menyerap gabah petani,” kilahnya.

Jika sekarang menyerap gabah dalam jumlah besar, usaha penggilingan padi khawatir saat menjual dalam bentuk beras tidak akan maksimal terserap oleh pasar karena telah dibanjiri oleh beras impor. Selain itu, harga beras saat itu berpotensi bersaing dengan beras impor, sehingga ada peluang harga beras mengalami penurunan akibat banjirnya stok barang di pasaran. “Menghindari risiko rugi, lebih baik saya membeli gabah petani dalam jumlah terbatas, hanya untuk kebutuhan operasional minimum,” tegasnya. *man

BAGIKAN