A.A. Made Sukawetan, Merangkak Naik  

HARGA gabah dengan kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Bali, menurut pria bernama lengkap AA Made Sukawetan terus merangkak naik saat ini.

HARGA gabah dengan kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Bali, menurut pria bernama lengkap AA Made Sukawetan terus merangkak naik saat ini. Hal tersebut terjadi seiring dengan dampak kemarau berkepanjangan yang telah membuat menurunnya luasan tanaman padi sekarang ini.

“Sejak awal tahun ini harga gabah terus mengalami lonjakan dan terakhir sudah menembus harga Rp5.500 per kg di tingkat petani, sekaligus merupakan harga tertinggi yang pernah ada selama ini,” tutur Sukawetan.

Pelaku usaha penggilingan padi di Tabanan sekaligus Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali ini, menambahkan lonjakan harga gabah ini juga mendorong ikut naiknya harga beras di tingkat usaha penggilingan sekarang ini. Kini harga beras kualitas medium di tingkat usaha penggilingan naik menjadi Rp9.800 per kg, dari sebelumnya Rp9.200 per kg.

“Kondisi harga gabah kualitas GKP yang terjadi sekarang ini, sangat jauh jika dibandingkan dengan patokan harga pembelian pemerintah (HPP) yang dibanderol untuk di tingkat petani Rp3.700 per kg dan di tingkat penggilingan Rp3.750 per kg,” tuturnya.

Menurutnya, lonjakan harga gabah ini sesuai prediksi sebelumnya dengan melihat dampak dari musim kemarau yang terjadi cukup panjang pada akhir tahun lalu dan berlanjut hingga saat ini. Kemarau membuat luasan produksi dan luasan panen padi jadi berkurang dari sebelumnya, sehingga serapan gabah dari usaha penggilingan ke tingkat petani di tingkat lokal menjadi terbatas saat ini.

Di sisi lain akuinya, meski harga gabah di tingkat petani ini naik, hal itu berbanding terbalik dengan kualitas panen yang ada sekarang ini. Sebagian besar kualitas panen gabah di tingkat petani kurang maksimal, salah satunya dicerminkan dengan tingkat rendemen gabah yang berada di kisaran 54-55 persen dampak dari kekeringan sekarang ini. *man

BAGIKAN