35 Tahun LPD, Terbukti Mampu Bentengi Adat dan Budaya Bali

SEJUMLAH tokoh LPD hadir dalam kegiatan untuk sumbang pemikiran bagaimana memajukan LPD di tengah gempuran modernisasi dan juga serbuan lembaga keuangan lainnya. 

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang memiliki visi menunjang kebutuhan masyarakat desa adat, sudah 35 tahun terbukti mampu menjaga kelestarian seni, adat dan budaya masyarakat Bali. Pada usia ke-35 tahun, benteng adat dan budaya Bali ini diharapkan tetap eksis dan mampu meraih peluang dan mengubah tantang menjadi peluang. Hal ini terungkap dalam Talk Show 35 Tahun LPD di Gedung Pers Bali Ketut Nadha, Selasa (19/11) kemarin.

SEJUMLAH tokoh LPD hadir dalam kegiatan untuk sumbang pemikiran bagaimana memajukan LPD di tengah gempuran modernisasi dan juga serbuan lembaga keuangan lainnya.

Salah seorang tokoh yang terlibat dalam pendirian LPD pada 1984 lalu I Wayan Gatha mengatakan, pada mulanya saat didirikan, LPD memiliki tujuan kelak bisa berdiri di masing-masing desa adat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh Bali. “Saat itu Prof. Ida Bagus Mantra sebagai penggagas memikirkan jika pralaba (kekayaan) desa adat dalam bentuk lahan, tanah dan sebagainya akan bisa habis seiring berjalannya waktu. Dari situ tercetus gagasan untuk membuat lembaga keuangan yang memiliki kontribusi terhadap desa adat, terlebih mampu menjaga kelestarian seni, adat dan budaya,” tuturnya.

Dalam perjalanan diakui ada LPD yang sehat dan tidak sehat, bahkan tidak aktif. Tetapi ia mengapresiasi keberadaan LPD yang masih tetap eksis hingga saat ini, dan beberapa di antaranya mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap desa adat. Hal tersebut tidak lepas dari pengurus desa adat terus memiliki komitmen tinggi didasari dengan kejujuran untuk membangun dan mengembangkan LPD di desa adat masing-masing.

Saat ini, dikatakannya, keberadaan LPD sudah terbukti mampu mensejahterakan masyarakat yang bisa dibandingkan bagaimana desa adat yang belum ada LPD-nya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Lembaga Perkreditan Desa (LP-LPD),  I Nengah Karma Yasa, S.E. menimpali, LPD meski sudah 35 tahun namun masih berupaya terus berbenah agar dapat menopang perekonomian masyarakat Bali. Untuk itu LP-LPD meski dalam keterbatasannya berupaya terus mendampingi LPD, sehingga dapat berkembang dan tumbuh sejajar dengan lembaga keuangan lainnya yang  lebih dahulu ada.

“Kami harapkan peran krama desa adat untuk bersama memajukan LPD. Tanpa komitmen krama desa adat untuk memanfaatkan produk LPD, LPD tidak akan bisa berkembang,” tandas Karma Yasa.

Selain itu untuk menjaga eksistensi LPD sebagai lembaga milik desa adat, beberapa hal yang harus dilakukan yaitu menjaga konsisten yang berkelanjutan serta memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan SDM yang unggul.

Pinandita Ketut Pasek Swastika mengatakan, usia 35 tahun, tiga ditambah lima yaitu delapan memiliki makna LPD sudah ada di 8 penjuru. “LPD ibaratnya Dewi Laksmi yaitu Dewi kemakmuran yang membawa rezeki bagi krama desa adat.  Jika tidak ada LPD bagaimana kita ajegkan adat dan budaya Bali. Kalau kita sayangi LPD maka rezeki dan kemakmuran itu akan ada,” tutur Ida Pandita.

Dikatakan, saat ini ego sektoralnya harus dihilangkan. Tidak ada lagi pertanyaan siapa yang berkuasa, tetapi bagaimana bersama memajukan LPD. “Prospek ke depannya bisa tidak LPD tidak hanya ada di Bali saja, tetapi juga berkembang ke daerah lain karena banyak umat juga ada di luar Bali,” ucapnya.

Di era revolusi industri 4.0 ini, satu yang diharapkan pada Laksmi Dewi ini, adalah bisa memberikan layanan yang lebih memudahkan krama. “Kalau bisa kerja sama dengan BPD dari segi ATM. Agar lebih mudah bagi krama untuk  mengakses, terutama saat malam hari dan hari libur bila membutuhkan dana,” katanya memungkasi.

Sebelum talk show digelar, BKS LPD menyerahkan penghargaan kepada Prof. Dr. Ida Bagus Mantra selaku pendiri dan perintis LPD di Bali. Penghargaan diterima salah seorang putranya yakni Dr. Ida Bagus Gde Wira Wibawa Mantra, S.T., M.T.  *pur

BAGIKAN