2020, Seperti Ini Kondisi Lapangan Usaha di Bali

Bali merupakan provinsi yang terparah terdampak Covid-19 mengingat 54 persen sumbangan produk domestik bruto (PDB) berasal dari sektor pariwisata.

RESTORAN – Salah satu restoran di Kuta yang tutup akibat pandemi Covid-19. Akomodasi makan dan minum adalah salah satu usaha yang mengalami kontraksi terdalam pada 2020. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Bali merupakan provinsi yang terparah terdampak Covid-19 mengingat 54 persen sumbangan produk domestik bruto (PDB) berasal dari sektor pariwisata. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Trisno Nugroho di Denpasar, Minggu (7/2), mengatakan dari sisi lapangan usaha, hampir seluruhnya mengalami pertumbuhan negatif.

Dia menyebutkan, data BPS Bali menunjukkan, di tahun 2020 dari sisi penggunaan, kontraksi tertinggi terjadi pada komponen impor luar negeri yakni -78,34 persen (yoy), ekspor luar negeri sebesar -76,23 persen (yoy), investasi yakni -12,21 persen (yoy) dan konsumsi rumah tangga -3,65 persen (yoy). Sementara, konsumsi pemerintah masih tumbuh positif  0,17 persen (yoy).

Kontraksi terdalam tampak pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan yaitu -31,79 persen (yoy), akomodasi makan dan minum sebanyak -27,52 persen (yoy), serta pengadaan listrik air dan gas sebesar -16,49 persen (yoy).

Trisno menerangkan, peningkatan mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi pada momen liburan akhir tahun yang jatuh di triwulan IV tahun 2020 mendorong perbaikan kinerja perekonomian Bali-Nusra. Namun demikian, mewaspadai meningkatnya terjadinya peningkatan kasus Covid-19, diberlakukan kebijakan pengetatan protokol kesehatan melalui kewajiban tes PCR bagi pelaku perjalanan dalam negeri serta pelarangan penyelenggaraan pesta Tahun Baru. “Kebijakan tersebut menyebabkan pembatalan sejumlah rencana kedatangan domestik sehingga menyebabkan perbaikan kinerja pada triwulan IV 2020 berlangsung terbatas,” paparnya.

Menurut BPS Provinsi Bali, perekonomian Bali pada triwulan IV 2020 kembali melanjutkan tren pemulihan sebagaimana tercermin pada pertumbuhan triwulanan sebesar 0,94 persen (qtq) serta tercermin pada kenaikan nilai PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dari Rp 36,39 triliun di triwulan III menjadi Rp 36,74 triliun di triwulan IV 2020. “Perbaikan ini tidak lepas dari berlanjutnya penerapan tatanan era kehidupan baru dan peningkatan aktivitas sektor pariwisata di akhir tahun 2020 yang ditopang oleh wisatawan nusantara,” terangnya.

Dari 17 lapangan usaha, 13 di antaranya tercatat tumbuh positif di mana tiga pertumbuhan tertinggi dialami lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh sebesar 5,46 persen (qtq), diikuti sektor penyediaan akomodasi makan dan minum yang tumbuh sebesar 3,61 persen (qtq), dan jasa kesehatan dan sosial yang tumbuh sebesar 3,01 persen (qtq).

Sejalan dengan itu, sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,99 persen (qtq). Dari sisi penggunaan, perbaikan terjadi pada komponen konsumsi pemerintah sebesar 29,88 persen (qtq), ekspor luar negeri 13,16 persen (qtq), dan investasi yaitu 2,4 persen (qtq). *dik

BAGIKAN