2020, Ekspor Bali Diharap Meningkat Tiga Kali Lipat

Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo berharap Bali dapat meningkatkan nilai ekspor tiga kali lipat dari ekspor 2019.

MOU - Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo  bersama Gubernur Bali Wayan Koster, usai menandatangani MoU Komitmen Mendorong Kegiatan Pertanian, Perkebunan dan Peternakan di Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) –Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo berharap Bali dapat meningkatkan nilai ekspor tiga kali lipat dari ekspor 2019. Menurutnya Bali memiliki potensi untuk itu.

Mentan  mengatakan nilai ekspor Bali 2019 mencapai Rp530 miliar ditargetkan menjadi Rp1,5 triliun tahun ini. Untuk itu Yasin Limpo menyatakan siap mendukung komitmen yang ditunjukkan Gubernur Bali, Wayan Koster dalam memajukan sektor pertanian di Bali. Ia mengatakan mendukung penuh dan berada bersama Gubernur Koater dalam mewujudkan visinya di bidang pangan.

“Rasanya kalau semua Gubernur seperti ini, Indonesia akan cepat selesai ini persoalannya,” kata mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini. Hal ini disampaikannya saat menyaksikan langsung penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Pertanian dengan Gubernur Bali terkait komitmen mendorong kegiatan pertanian, perkebunan dan peternakan di Bali (Sejuta Ternak Sapi Bali) di Wantilan Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Sabtu (4/1).

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Bali Sri Organik dengan Big Almond Tree Pty. Ltd. terkait ekspor beras organik ke Australia 16 ton. Mentan menyambut positif hal ini. Ia meminta jajarannya memberikan dukungan kepada Pemerintah Provinsi Bali dalam memenuhi permintaan ekspor ini mulai dari pemilihan bibit dan pupuk yang tepat. “Kami siap mana ada yang mau lagi tinggal ditunjuk oleh Pak Gubernur. Mempersiapkan ini memang harus dari hulu ke hilir,” katanya.

Mentan mengatakan, pentingnya menghadirkan pertanian secara konsisten sehingga mampu menjadi harapan dan memenuhi kebutuhan warga negara. Bali menurutnya memiliki potensi besar di sektor pertanian. Oleh karena itu ia mendorong peningkatan kontribusi sektor pertanian dari 11-12 persen menjadi 20-30 persen. Akselerasi ini akan berdampak kepada masyarakat yang paling kecil. “Nggak ada orang yang nggak perlu makan, nggak ada orang yang tidak perlu sayur, tidak ada orang yang tidak perlu buah-buahan tidak ada orang yang tidak perlu daging,” tukasnya.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, sektor pangan menjadi prioritas utama dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali karena ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat. “Ini harus bisa memberi jaminan dan kepastian untuk bisa dipenuhi agar kehidupan keluarga kami berjalan dengan baik,” kata Ketua DPD PDIP Provinsi Bali ini.

Untuk itu Gubernur Koster telah membuat beberapa kebijakan seperti Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, Perda Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik. “Dengan pembangunan pertanian organik ini karena kami ingin agar alam manusia dan budaya Bali ini betul-betul sehat dan bersih sebagai bagian dari pada pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, nilai tukar petani yang menjadi barometer kesejahteraan petani di Bali sudah meningkat dari 105 menjadi 107. “Mau kita dorong lagi supaya nilai tukar petani meningkat,” imbuhnya. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mendorong ekspor produk pertanian. Sebelum ekspor beras organik ini, Bali sudah berhasil mengekspor 4.000 ton manggis ke Tiongkok.

Pada kesempatan tersebut Mentan menyerahkan Aplikasi Peta Potensi Ekspor Pertanian Provinsi Bali kepada Gubernur Bali. Tampak hadir anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika, sekjen dan dirjen di lingkungan Kementerian Pertanian serta kepala OPD terkait di Provinsi Bali. *pur

BAGIKAN