2020, Bisnis Asuransi Optimistis Hadapi Tantangan Ekonomi

Pelaku bisnis asuransi optismistis pada 2020 ini mampu menghadapi tantangan ekonomi, baik itu dari global maupun nasional yang mempengaruhi kinerja ke depannya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pelaku bisnis asuransi optismistis pada 2020 ini mampu menghadapi tantangan ekonomi, baik itu dari global maupun nasional yang mempengaruhi kinerja ke depannya.
Head of Business Partnership Equity Wilayah 2, Hendra Wira Wijaya di Sanur, Kamis (6/2),mengatakan pada 2020 ini, sepakat adalah tahun penuh dengan tantangan mengingat beberapa ancaman hal yang masih bisa mempengaruhi perekonomian dunia tahun ini.

“Seperti meningkatkanya tensi geopolitik beberapa negara di dunia maupun bencana alam, badai tropis, banjir dan kebakaran hutan juga berimbas pada pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Belum lagi kondisi perekonomian nasional yang juga sangat berpengaruh kepada pertumbuhan asuransi di Indonesia. Namun untuk Equity Life Indonesia, kata dia, tantangan pastinya akan juga menghasilkan semangat baru untuk terus lebih memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
“Kami yakin dalam keadaan finansial yang tidak menentu, di sinilah perlindungan asuransi sangat akan dibutuhkan dan sangat membantu,” ujarnya.

Ia menyampaikan portfolio nasabah in branch di Bali pada 2019 tumbuh 100 persen dari 2018. Kepercayaan dari masyarakat ini, tentunya hal ini tak lepas dari dukungan serta kerjasama yang baik dari seluruh pihak, termasuk salah satu bank partner yaitu BPD Bali.
“Melalui bancassurance, kami memiliki visi yang sama untuk bersama sama membangun masyarakat Bali melalui literasi keuangan perlindungan asuransi jiwa, agar masyarakat Bali bisa lebih sejahtera di masa yang akan datang,” paparnya.

Terkait kasus asuransi yang belakangan ini terjadi, ia menyampaikan pilihlah asuransi yang memiliki produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memiliki keuangan yang sehat dan memang terbukti mampu memberikan perlindungan jiwa, kesehatan dan finansial.
Sebelumnya pemerhati asuransi, Prof. Dr. Gede Sri Darma mengatakan deretan kasus yang terjadi di beberapa asuransi saat ini dipicu oleh tata kelola perusahaan yang tidak baik atau belum Good Corporate Governance (GCG). Termasuk masih minimnya literasi atau pengertian masyarakat terhadap asuransi.
“Bisa dikatakan pengertian masyarakat terhadap asuransi masih di bawah 20 persen serta adanya pengalaman pahit masa lalu terhadap asuransi,” katanya.

Sri Darma menerangkan contoh dari penerapan GCG adalah sistem pengendalian dan pengawasan intern, mekanisme pelaporan atas dugaan penyimpangan, tata kelola teknologi informasi hingga pedoman perilaku etika. GCG penting karena merupakan adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.
Tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan nilai ekonomi jangka panjang bagi para investor dan pemangku kepentingan (stakeholder).
“Bila dijalankan perusahaan asuransi dengan baik maka problema seperti saat ini tidak akan terjadi,” ujarnya.*dik

BAGIKAN