Dewa Ayu Sri Wahyuningsih Antisipasi Debitur Abal-abal

DALAM kondisi perlambatan ekonomi, bank perkreditan rakyat (BPR) dituntut menyasar nasabah debitur yang prospektif diberikan kredit.

DALAM kondisi perlambatan ekonomi, bank perkreditan rakyat (BPR) dituntut menyasar nasabah debitur yang prospektif diberikan kredit.

“SDM BPR tidak boleh menyasar debitur abal-abal yang meminjam kredit untuk tujuan spekulasi,” kata Wakil Ketua DPK Perbarindo Denpasar, Dewa Ayu Sri Wahyuningsih.

Ia mengungkapkan, analisa kredit tidak hanya menghitung kemampuan debitur dalam membayar angsuran kredit. Penghitungan rasio kemampuan debitur menjadi salah satu item dalam analisa kredit.

Menurut Direktur Utama BPR Hari Depan ini, dalam tahap awal perlu dipastikan kebenaran usaha yang dimiliki debitur memiliki usaha yamg jelas. Hal ini mewajibkan SDM BPR untuk turun langsung melihat kondisi usaha calon debitur.

Data yang langsung didapat di lapangan, merupakan data kenyataan. Data usaha debitur wajib ada sesuai kenyataan.

Ia menilai pengecekan ke lapangan untuk menentukan kebutuhan kredit calon nasabah.  Tujuan peminjaman kredit juga harus sesuai permohonan kredit yang diajukan debitur.

Wahyuningsih menegaskan, dengan pengecekan di lapangan, SDM BPR bisa melihat kemampuan debitur dan memastikan calon debitur ini ke depan lancar membayar angsuran.

Di tengah tingginya angka kredit bermasalah (NPL) bank perkreditan rakyat (BPR) wajib menerapkan prinsip kehati-hatian. Tingginya angka kredit bermasalah harus dijadikan dasar untuk lebih berhati-hati menggaet debitur baru.

Dewa Ayu Sri Wahyuningsih menambahkan, jika sudah menerapkan prinsip kehati-hatian, SDM BPR di bagian kredit akan mampu menjaring nasabah yang loyal terhadap BPR. Sementara calon debitur yang abal-abal akan tersaring saat dilakukan proses analisa kredit. *kup