Ekonomi Dunia Melambat, Ekspor Kerajinan Lesu

Kondisi perlambatan ekonomi dunia masih dirasakan industri kecil mikro (IKM) di Bali.

PRODUK - Perajin sedang mengemas produk kerajinan yang akan diekspor.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kondisi perlambatan ekonomi dunia masih dirasakan industri kecil mikro (IKM) di Bali. Ekspor produk kerajinan Bali masih anjlok, dan turun sekitar 50 persen dibandingkan sebelum terjadinya krisis ekonomi.

Pemilik PT Vision Bali I Nyoman Sridana mengatakan, permintaan ekspor kerajinan turun setidaknya 50 persen. “Penurunan permintaan sudah terjadi lima tahun belakangan. Klien kami yang biasanya order untuk satu item minimal 50 pcs, saat ini paling- paling order 25-30 pcs saja, dari biasanya order 10 kubik saat ini hanya 5 kubik saja,” katanya di Jl. Tukad Badung, Renon Denpasar, Senin (7/10).

Lebih lanjut dikatakan, kondisi tersebut dipengaruhi perekonomian dunia, bukan karena pasar sudah jenuh dengan produk kerajinan Bali, tapi lebih pada menurunnya daya beli di luar negeri. “Klien kami yang dulunya punya lebih dari satu toko, juga mengeluh harus menutup tokonya karena kondisi perekonomian. Makanya jumlah orderan menurun,” katanya.

Untuk selera pasar dikatakan tiap negara memiliki selera berbeda. Seperti untuk pasar Amerika, Jerman dan Prancis lebih tertarik pada hiasan dinding berupa panil dengan ukiran yang berbentuk abstrak. “Lebih ke abstrak, tapi kalau diperhatikan lebih detail menyerupai bentuk cicak, ular, anjing, kucing, harimau ada ikatan seperti tali, ada juga tanduk. Kesulitan kami mendapatkan perajin yang bisa mengukir abstrak, karena ukiran agak dalam dan lebih rumit sehingga ongkos perajin juga lebih tinggi,” tuturnya.

Selain itu dikatakan terkait bahan baku juga mengalami kenaikan harga, tentu sangat berpengaruh pada harga jual kerajinan. “Kalau untuk mendapatkan bahan baku berupa kayu suar, sebenarnya gampang tidak ada kesulitan. Tapi harga yang mengalami kenaikan, sehingga jadi kendala tersendiri,” katanya.

Selain kendala tadi dikatakan, pihaknya tidak mengalami kendala lain dan belum pernah mengalami ditolaknya barang setelah tiba di negara tujuan, karena sudah mematuhi perjanjian yang dilakukan sejak awal. “Kalau perajin yang produknya ditolak, kemungkinan karena tidak sesuai warna cat yang digunakan. Atau tidak sesuai dengan perjanjian awal,” katanya.

Tidak hanya mengekspor ke tiga negara tersebut, banyak negara lain juga masih tertarik pada kerajinan Bali meski dengan selera yang berbeda. Selera pasar India dan Finlandia lebih pada patung binatang. Negara tujuan ekspor lainnya seperti Spanyol,  Guam, Skotlandia memiliki selera sendiri. *pur