Minim Produksi, Sirsak dan Markisa Prospektif di Pasaran

Buah sirsak yang dijual di pasaran

Denpasar (bisnisbali.com)-Keberadaan buah lokal di pasaran mulai dilirik masyarakat. Tidak hanya jenis mangga, manggis ataupun jeruk yang menjadi buah favorit, jenis buah sirsak dan markisa asam juga diminati masyarakat yang memberikan manfaat untuk kesehatan. Namun keberadaan 2 jenis buah ini menurut pedagang di pasar masih sulit didapatkan.

Salah seorang pedagang buah di Pasar Badung, Sang Ayu Anggawati, saat ditemui belum lama ini, mengatakan, permintaan buah sirsak dan markisa khususnya yang memiliki rasa asam cukup banyak. Menurutnya, banyak masyarakat yang mencari 2 jenis buah ini untuk dijadikan bahan obat atau menunjang gaya hidup sehat.

Selain untuk bahan obat, 2 jenis buah ini kata Sang Ayu Anggawati juga nikmat dijadikan jus. Rasanya yang asam manis membuat jenis buah ini segar untuk dinikmati. Hal ini yang membuat jenis buah ini cukup banyak permintaan.

Namun, jenis buah lokal Bali ini dikatakan keberadaannya belum banyak. “Pasokan masih minim. Tidak banyak petani yang mau memproduksi, terutama markisa asam, padahal konsumen banyak yang menanyakan keberadaan buah ini,” ujarnya.

Diminta konfirmasi soal produksi, Kabid Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali I Wayan Sunartha mengatakan, produksi dua jenis buah ini memang masih minim, terutama untuk markisa yang memiliki tekstur rasa asam. “Kalau sirsak sudah ada beberapa warga masyarakat yang menanam. Hanya belum digarap serius, belum ada kebun yang khusus menanam itu. Sifatnya masih 1-2 di kebun atau pekarangan rumah masyarakat,” ujarnya.

Untuk jenis sirsak, kata Sunarta, tahun 2018 jumlah produksi hanya 2.283 kuintal. Sementara markisa asam, belum terdata. Berbeda dengan jenis buah favorit seperti mangga yang tahun 2018 produksinya mencapai 621.265 kuintal atau jeruk yang mencapai 2.246.714 kuintal.

Dikatakannya, untuk produksi markisa tidaklah sulit, mulai dari proses tanam ataupun perawatannya. “Perawatannya pun tidak perlu proses disemprot. Hanya dibuatkan tempat rambatannya dan daunnya intens dipotong,” ujarnya.

Belum sinkronnya informasi kebutuhan pasar atau penghubung buah ini ke pasaran, menurut Sunarta menjadi kendala. Di samping itu, promosi dua jenis buah ini juga belum begitu tinggi. Petani merasa markisa asam belum memiliki pasar yang bagus, sehingga belum mau memproduksi. *wid