Direktur Utama Bank BPD Bali mengunjungi UMKM pengolahan keripik buah di Malang.

Malang (bisnisbali.com) – Kaya akan produk buah lokal, namun potensi tersebut belum digarap secara maksimal oleh UMKM di Bali hingga kini. Bercermin dari kondisi tersebut, UMKM lokal ini didorong untuk memaksimalkan khususnya dalam hal pengolahan dengan memanfaatkan bantuan permodalan dari lembaga perbankan.

“Kunjungan ke UMKM ini merupakan salah satu bentuk penjajakan mengingat di Bali juga memiliki potensi serupa pada sejumlah komoditi buah lokal. Terkait itu, kami membuka peluang bagi UMKM di Bali untuk memanfaatkan bantuan melalui dana kemitraan dari Bank BPD Bali,” tutur Direktur Utama BPD Bali, I Nyoman Sudharma, saat mengadakan media gathering mengunjungi sejumlah UMKM, salah satunya Gapura yang merupakan usaha pengolahan keripik apel di Malang, Jawa Timur, Sabtu (28/9).

Di Bali ada banyak produk buah lokal yang bisa diolah jadi keripik. Diantaranya, salak produksi Karangasem, nangka, pisang, dan mangga. Jika ada UMKM di Bali yang tertarik pengembangan usaha serupa, pihaknya membuka peluang. Selain itu, akan coba lakukan kerjasama melalui BUMDes, khususnya di daerah sentra produksi buah.

“Terpenting lagi dari sisi pelaku UMKM  harus membuat klaster tersendiri agar bisa disuport oleh anggota. Mudah-mudahan tahun depan bisa dieksekusi dalam target bisnis bank,” ujarnya.

Awalnya bisa saja mendatangkan dari Malang sebagai mitra seperti start up atau BUMDes. Selain itu, bisa juga dengan mengajak kerja sama, sehingga nantinya bisa diproduksi menjadi oleh-oleh yang mempunyai ciri khas. Misalnya keripik salak Bali. Yang terpenting adalah komitmen dari Pemda melalui perusahaan daerah.

Owner UKM Gapura Puguh Haryono mengungkapkan, usaha kripik ini sudah dimulai sejak 2013 silam. Keputusannya itu didasari dengan melihat produksi buah, khususnya apel dan juga permintaan pasar yang tinggi. Kemudian mencoba mengkemas potensi tersebut dengan mengolah dalam bentuk kripik melalui proses pengolahan dengan mesin rakitan atau vacum frying.

“Nilai mesin vacum frying ini mencapai sekitar Rp200 juta dan berkapasitas bahan baku hinggga 40 kg, sedangkan total produksi mencapai 50 kg per hari,” ujarnya.

Dengan produksi kripik buah ini, semua produksi apel di petani memiliki nilai jual yang pantas. Sebab, bahan baku yang digunakan untuk kripik buah ini merupakan buah yang tidak masuk pasar buah segar (afkiran) dengan harga berkisar Rp 5 ribu-Rp 6 ribu per kg. Sementara untuk harga buah apel segar di pasaran mencapai Rp 15 ribu per kg.

Sementara itu, selain mengunjungi sejumlah UMKM, kunjungan Bank BPD Bali di Malang juga di isi dengan penyerahan dana CSR ke Pura Luhur Giri Arjuno di Dusun Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Malang. Penyerahan dana CSR tersebut merupakan aktualisaai konsep Tri Hita Karana sekaligus sebagai kepedulian sosial Bank BPD Bali khususnya pada tempat suci.

Bantuan CSR diserahkan langsung oleh  Direktur Utama Bank BPD Bali, Drs I Nyoman Sudharma kepada Pemangku Pura Luhur Giri Arjuno, Romo Kiten. Hadir juga menyaksikan dalam kesempatan tersebut Dewan Komisaris dan direksi Bank BPD Bali.

Terang Nyoman Sudharma usai melakukan persembahyangan bersama, Pura Luhur Giri Arjuno banyak dikunjungi oleh pemedek (masyarakat yang bersembahyang) dari Bali selama ini. Bercermin dari itu pula harapannya, adanya CSR dari Bank BPD Bali, Pengempon Pura Luhur Giri Arjuno bisa membangun fasilitas publik di areal pura untuk memberikan kenyamanan para pemedek yang datang melakukan tirta yatra.

“CSR yang kami berikan untuk membangun fasilitas pura, mudah-mudahan ini bisa bermanfaat untuk umat Hindu yang ingin bersembahyang di Pura Luhur Giri Arjuno,” tandasnya. *man/editor rahadi