Buah Naga Organik Bulian mulai Diminati Pasar Asia

Singaraja (bisnisbali.com) – Sektor pertanian menjadi prioritas yang kini dikembangkan di Kabupaten Buleleng. Beberapa bagian wilayah mempunyai lahan pertanian yang cukup luas dan potensial untuk dapat dikembangkan dalam mendukung penyediaan hasil-hasil pertanian termasuk mendukung ketahanan pangan lokal seperti umbi-umbian dan tanaman pangan serta holtikultura.

Salah satu wilayah di Kabupaten Buleleng yang potensial di bidang pertanian adalah Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan yang kini sukses mengembangkan buah naga dengan metode organik. Dulu daerah ini adalah lahan kering bebatuan yang bisa dikatakan kurang produktif.

Namun di tangan I Wayan Kantra yang merupakan petani dari Desa Bulian ini, lahan-lahan yang ada disulap menjadi perkebunan buah naga yang kini dikenal sebagai lahan buah naga terbesar di Bali. Tanaman buah naga yang berjumlah 20.000 pohon ini pun dibudidayakan di atas lahan seluas 18 hektar.

Perkebunan buah naga varietas merah ini, dibudidayakan oleh I Wayan Kantra secara organik. Hal ini juga yang mendorong semangat Kabupaten Buleleng menyasar pasar ekspor buah naga sebagai salah satu produk pertanian unggulan di Buleleng agar bisa menembus pasar Cina, mengingat ada permintaan cukup besar pada komoditas tersebut. Terlebih lagi keinginan Kabupaten Buleleng ini sejalan dengan program Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang berupaya mendapatkan akses pasar komoditas buah naga ke Cina. Hasil perkebunan yang berbasis organik dipandang lebih mudah untuk menembus pasar ekspor.

I Wayan Kantra menjelaskan, melihat kondisi lahan di Desa Bulian yang kering, salah satu komoditas pertanian yang cocok dibudidayakan adalah buah naga. Tidak menjadi halangan baginya untuk mengembangkan ribuan buah naga dengan kondisi lahan yang cukup kering tersebut. Pihaknya tentu sudah melakukan antisipasi kekeringan dengan menyediakan puluhan bak penampungan untuk irigasi. Selain itu, pihaknya juga membuat lahan pertanian terpadu dengan peternakan kambing dan sapi yang menghasilkan pupuk organik, karena dirinya ingin membudidayakan  buah naga nonkimia atau secara organik. “Ini juga menjadi salah satu upaya untuk konservasi lahan kering, kebetulan di kawasan ini salah satu yang cocok dibudidayakan adalah buah  naga,” jelasnya.

Kantra menjelaskan, untuk menghasilkan produk buah yang berkualitas di atas lahan kering, dilakukan perawatan khusus agar tanaman tidak sampai kekeringan. Selain itu pemilihan buah naga varietas merah juga bukan tanpa alasan. Menurutnya, buah naga merah memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik daripada buah naga varietas lainnya. Dalam setahun, ia mampu memanen 50 ton lebih.

Sementara itu Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Gede Subudi, S.P., beberapa waktu lalu menjelaskan, peluang berhasilnya ekspor buah naga Buleleng ini sangat besar. Menurutnya, dibandingkan dengan buah naga di negara lain, buah dari Buleleng memilik rasa yang lebih manis. Pihaknya pun akan terus mendukung petani di Buleleng dengan melakukan pembinaan terkait kualitas buah ekspor.

Hingga saat ini, dari 29 hektar lahan pertanian buah naga yang ada di Buleleng, sekitar 18 hektar yang ada di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan sudah dilakukan penilaian oleh Kementerian Pertanian Cina mewakili kebun buah naga Indonesia. “Jadi tanaman buah naga dicek secara detail, karena kita tahu Cina sangat selektif dalam persiapannya sebelum kran  impor dari mereka dibuka,” jelasnya.

Selain di Desa Bulian, terdapat lahan perkebunan buah naga di kawasan Desa Kalisada, Kecamatan Seririt. Seperti kebun buah naga milik Kelompok Tani Hortikultura  Labda Karya Desa Kalisada, Kecamatan Seririt.  Pemkab Buleleng melalui Dinas Ketahanan Pangan mendorong pengembangan tanaman buah organik dengan melakukan pembinaan ke sejumlah kelompok tani yang mengembangkan produk hortikultura organik. Selain pembinaan  juga telah mendaftarkan kelompok tani tersebut ke Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS), yang berpusat di Mojokerto.  Pembinaan ini dilakukan selain untuk peningkatan produksi juga untuk mengimbangi kebutuhan akan bahan pangan organik khususnya pada buah naga yang setiap tahunnya terus meningkat. Selain itu juga untuk peningkatan kuantitas produksi untuk menjaga kualitas pangan yang sehat. *ira