Prof. Dr. IB. Raka Suardana Kecipratan Untung

PENURUNAN suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7 DRR, menurut Prof. IB. Raka Suardana, berpotensi tidak hanya berdampak pada bergairahnya sektor usaha, kebijakan tersebut juga akan berimbas pada makin kinclong atau cerahnya investasi di surat berharga. Hal itu sejalan dengan makin meleknya masyarakat akan berinvestasi saat ini.

Pengamat ekonomi dari Undiknas University ini mengungkapkan, penurunan suku bunga acuan BI memberi angin segar bagi investasi secara umum. Penurunan suku bunga acuan BI yang juga nanti akan dibarengi dengan turunnya pula suku bunga kredit yang disalurkan kalangan lembaga keuangan, itu akan menggairahkan sektor usaha produksi.

Ia menambahkan, di sisi lain keadaan tersebut juga akan membuat investasi di luar produk perbankan menjadi makin dilirik nantinya.

“Kondisi suku bunga bank makin murah, termasuk juga untuk suku bunga kredit, tabungan maupun deposito itu akan membuat investor atau masyarakat akan melirik investasi di luar perbankan untuk bisa menikmati imbal hasil yang lebih baik,” katanya.

Menurut Prof. Raka Suardana, saat ini pilihan investasi ada beragam dan masyarakat makin melek (familiar), sehingga besar kemungkinan masyarakat akan melirik investasi di antaranya emas dalam bentuk tabungan emas yang merupakan produk pegadaian, saham, danareksa dan surat berharga lainnya. Bercermin dari itu, kondisi ini menuntut kalangan lembaga keuangan ini agar lebih berinovasi dalam upaya menarik atau menjaga loyalitas nasabah.

“Bank jangan hanya terpaku dengan produk kredit konvensional maupun kredit konsumtif, harus ada terobosan lain,” katanya.

Di sisi lain, 7 DRR ini belum bisa menjadi daya dorong untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada semester II/2019 ini. Sebab, selain faktor di dalam negeri, ada sejumlah faktor lain dari luar negeri yang menyebabkan ekonomi RI belum banyak bergerak saat ini.

Ia mengatakan, faktor dari luar negeri atau eksternal tersebut di antaranya belum kondusifnya kondisi perekonomian di dunia hingga saat ini, dan faktor yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah adanya peralihan investasi dampak perang dagang Amerika dan Tingkok ini yang tidak masuk ke Indonesia, melainkan masuk berinvestasi ke Vietnam.

Ia menambahkan, faktor eksternal tersebut yang kemudian mengganggu iklim ekonomi Indonesia, sehingga menjadikan pertumbuhan ekonomi RI tersendat-sendat seperti sekarang ini. *man