Kadin Bali Berharap BI 7-DRR Turun lagi

Denpasar (bisnisbali.com) –Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bali berharap pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) bisa menurunkan lagi suku bunga acuan BI 7 DRR dari level 5,25 persen saat ini. Sebelumnya, pada 18-19 September BI telah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan memutuskan menurunkan BI 7DRR hingga 25 bps menjadi 5,25 persen.

“Kami merespons positif penurunan suku bunga acuan BI ini, karena akan meningkatkan gairah untuk berusaha yang nantinya akan berdampak juga pada peningakatan pendapatan negara dari sektor pajak,” tutur Ketua Kadin Bali, Made Ariandi, di Denpasar.

Menurutnya, penurunan suku bunga acuan BI ke level 5,25 persen akan merangsang gairah usaha bagi pelaku UMKM, dan tampaknya pada periode kedua ini pemerintahan Jokowi bukan lagi terfokus ke politik, melainkan menyasar sepenuhnya kepada peningkatan ekonomi nasional. Suku bunga acuan BI ini mestinya lebih bisa turun lagi dari yang ada saat ini.

Harapan Ariandi, suku bunga acuan BI ini harusnya paling tidak bisa menyamai suku bunga negara tetangga yang menyentuh kisaran 2,50 -3,00 persen atau mungkin sejumlah negara maju yang bisa memposisikan di level 1 persen. Asumsinya, jika bisa beranjak dari kisaran suku bunga yang hampir menyamai, paling tidak itu jadi kekuatan bagi pelaku usaha maupun UMKM di dalam negeri untuk lebih bisa bersaing dengan pelaku usaha di luar negeri.

“Selain itu guna menunjang daya saing UMKM ini dibutuhkan juga regulasi pendukung di kalangan perbankan. Salah satunya, keringanan suku bunga kredit di lembaga keuangan,” ujarnya.

Sebagai gambaran, selain BI 7 DRR, BI pada 18-19 September 2019 juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 6,00 persen. Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. Selain itu untuk memperkuat bauran kebijakan dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, BI melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan mendorong permintaan kredit pelaku usaha. *man