Sulitnya mencari pekerjaan belakangan ini tentu membuat para pencari kerja harus kreatif dalam membaca peluang usaha. Salah satu bisnis yang banyak diminati adalah bisnis kuliner. Kuncinya pengelola bisnis yang satu ini harus bisa menyajikan hal biasa menjadi luar biasa serta tetap konsisten dalam menjalankannya. Apalagi yang lain?


PENGAMAT ekonomi yang juga akademisi, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana menilai, di tengah kesibukan masyarakat utamanya mereka yang tinggal di perkotaan, untuk menyiapkan makanan sendiri di rumah merupakan suatu kendala. Maka tren yang terjadi adalah mereka memilih membeli makanan di luar, baik langsung mendatangi tempatnya ataupun dengan
jasa pesan antar seperti banyak yang telah memanfaatkan jasa ini.
Selain itu tren lainnya yang juga banyak dijumpai adalah kebanyakan orang untuk menjalin relasi atau mengadakan pertemuan serta reuni dengan teman juga diselenggarakan di rumah makan atau restoran. “Tren masyarakat kita saat ini lebih memilih pola praktis dalam segala aspek, kalau ada tempat yang nyaman dan bisa menyajikan makanan sesuai selera, kenapa tidak mereka lebih memilih model ini ketimbang harus sibuk mempersiapannya di rumah.
Maka dengan pola pikir ini, prospek rumah makan atau bisnis kuliner cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Dalam kurun waktu lima
tahun terakhir, terbukti bermunculan rumah makan dengan berbagai konsep serta menyajikan menu yang variatif,” ungkap Prof. Raka Suardana.
Yang membuat bangga dari bisnis yang mulai berkembang pesat ini adalah karena saat ini mulai ditekuni oleh anak anak muda yang juga sudah mulai cerdas melihat peluang ini. Makanan (kuliner) yang dijual pun lebih ke arah
menu umum yang banyak disukai oleh anak-anak muda, termasuk dengan konsep ala kafe.
“Potensi anak muda untuk bertemu atau berkumpul dengan teman sebayanya banyak
dilakukan, sehingga mengambil konsep ala kafe sangat tepat untuk dipilih.
Kalau melengkapi tempat usaha dengan penyediaan internet serta wifi gratis, tentunya akan jadi nilai tambah bagi tempat usaha kuliner, selain sajian kuliernya yang berkualitas,” ungkapnya.
Pengusaha kuliner yang didominasi oleh anak-anak muda juga banyak memanfaatkan teknologi digital, mulai dari pemasarannya hingga fasilitas pengantaran makanan yang simpel dan dirasa memudahkan konsumennya. Tak sedikit usaha kuliner yang digawangi anak muda ini juga banyak mengangkat menu-menu lokal yang sebelumnya banyak dilupakan dan dtinggalkan, seperti sate lilit, lawar, tipat cantok dan masih banyak lagi.
“Permasalahannya sendiri adalah kuliner lokal ini memang belum dikenalkan seperti menu western atau menu modern sehingga ini perlu dirintis lebih dalam utamanya di sekolah-sekolah kejuruan agar lebih mengenalkan menu
lokal agar layak dan dikenal lebih jauh oleh masyarakat,” terang Prof. Raka Suardana.
Dengan mulai bermunculannya pengusaha kuliner lokal ini pemerintah diharapkan lebih jeli dalam memberikan akses kemudahan baik dari segi izin usaha, pendampingan, dan juga menggelar berbagai event yang melibatkan
pengusaha kuliner yang didominasi oleh anak-anak muda, seperti yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar rutin setiap akhir tahun dengan event Denpasar Festivalnya,
“Harapan saya adalah ke depannya akan tumbuh kuliner kuliner yang makin banyak dan pastinya mampu menampung tenga kerja yang lebih banyak juga sehingga mampu menekan angka pengangguran. Selain itu menu yang disajikan
agar lebih kepada menu lokal dengan cita rasa dan kualitas mampu bersaing dengan menu modern. Selain itu masyarakat kita pun harus mulai mencintai produk pengusaha lokal kita agar kesinambunganya tetap terjaga,” jelas Prof
Raka Suardana.
Hal senada juga diungkapkan anggota DPRD Bali asal Denpasar Anak Agung Ngurah Adhi Ardhana. Pihaknya menyambut gembira langkah positif yang dilakukan anak muda saat ini yang berusaha berkreasi serta mengasah peluang untuk menjadi bekal pada masa yang akan datang.
“Prospek usaha kuliner ini sangat baik, apalagi dengan mengedepankan kuliner lokal. Selain itu Bali memiliki begitu banyak varian menu
kuliner. Pemerintah sendiri sangat mendukung dan mendorong pertumbuhan perekonomian dari sektor UMKM,” ungkap Gung Ngurah Adhi.
Ngurah Adhi Ardhana mengatakan, pengusaha kulier yang didomonasi oleh anak-anak muda ini harus tetap mengedepankan cita rasa, perbedaan, kreativitas, modal dan mental. Dengan berbekal hal ini dipastikan keberlangsungan usaha yang dibuat akan bisa bertahan lama dan berkembang dengan baik sesuai dengan selera pasar. Pemanfaatan digitalisasi baik untuk media promosi ataupun untuk fasilitas pesan antar penting untuk dilakukan, mengingat era saat ini sudah mulai beralih ke pasar digital dan modern.
“Dengan selalu menjaga kualitas dan kuantitasnya saya berharap para pengusaha lokal kita khususnya yang bergerak di bidang kuliner bisa sportif dalam menjalankan usahanya, serta tetap mengedepankan toleransi dengan sesama pengusaha lokal, sehingga tidak sampai ada persaingan yang tidak sehat yang justru akan merugikan usaha masing-masing. Bila perlu harus ada satu yang menggawangi untuk membuat paguyuban atau perkumpulan,
yang bertujuan untuk sama sama maju dan membaca peluang untuk berkembang bersama melalui berbagai event,” jelas Ngurah Adhi Ardana.

Salah seorang pengusaha kuliner asal Puri Agung Bangli, Anak Agung Sugantini mengatakan, usaha kuliner ini diakui memang memiliki prospek yang bagus bahkan tidak melihat krisis atau masalah ekonomi lainnya. “Jasa kuliner milik saya ini sudah puluhan tahun, bahkan saya melanjutkan usaha orangtua dulu. Intinya ya kita harus bisa tetap konsisten dalam menjalankan usaha ini pasti akan bisa bertahan meskipun banyak pengusaha kuliner lain yang juga mulai bermunculan,” terang Bu Agung.

Artinya usaha kuliner ini memang akan terus berkembang dan tidak ada matinya, tidak seperti bisnis lain yang mengalami pasang surut, hanya untuk menjalankan bisnis kuliner haruslah yakin dan tetap konsisten. *ita/editor rahadi